<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Lembayung Solo</title>
	<atom:link href="http://lembayungsolo.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://lembayungsolo.wordpress.com</link>
	<description>This is me...., just another ordinary girl...</description>
	<lastBuildDate>Sat, 26 Feb 2011 02:41:04 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='lembayungsolo.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Lembayung Solo</title>
		<link>http://lembayungsolo.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://lembayungsolo.wordpress.com/osd.xml" title="Lembayung Solo" />
	<atom:link rel='hub' href='http://lembayungsolo.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Mengeluh itu Manusiawi,kan?</title>
		<link>http://lembayungsolo.wordpress.com/2011/02/26/mengeluh-itu-manusiawikan/</link>
		<comments>http://lembayungsolo.wordpress.com/2011/02/26/mengeluh-itu-manusiawikan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Feb 2011 02:39:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lembayungsolo</dc:creator>
				<category><![CDATA[articles]]></category>
		<category><![CDATA[Cenil dan Gembus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lembayungsolo.wordpress.com/?p=118</guid>
		<description><![CDATA[Lembayung – SOLO the spirit of java Mendung bergelayut erat di langit sore kota Jogja. Meski demikian udara tetap terasa gerah dan lengket di sekujur tubuh. Pulang dari kampus yang hari ini penuh aktivitas akademis membuat saya merasa penat dan bosan. Berjalan kaki dari kampus menuju tempat kos saya lakukan dalam diam. Tetapi meskipun diam, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lembayungsolo.wordpress.com&amp;blog=2613609&amp;post=118&amp;subd=lembayungsolo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Lembayung – SOLO the spirit of java</p>
<p><a href="http://lembayungsolo.files.wordpress.com/2011/02/sigh.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-119" title="sigh" src="http://lembayungsolo.files.wordpress.com/2011/02/sigh.jpg?w=300&#038;h=186" alt="" width="300" height="186" /></a></p>
<p>Mendung bergelayut erat di langit sore kota Jogja. Meski demikian udara tetap terasa gerah dan lengket di sekujur tubuh. Pulang dari kampus yang hari ini penuh aktivitas akademis membuat saya merasa penat dan bosan. Berjalan kaki dari kampus menuju tempat kos saya lakukan dalam diam. Tetapi meskipun diam, pikiran saya berkali-kali mengucapkan kata keluhan, mengeluh, dan mengeluh. Karena dosen terlambat datang, karena tugas yang bertumpuk, karena hasil pre-test dan post-test praktikum anatomi hewan hanya mendapat nilai kursi terbalik, karena kantin kampus tutup, karena jalanan berdebu, bahkan karena cowok ganteng yang memberikan senyum paten-nya pada saya tempo hari ternyata adalah pacar asisten praktikum anatomi hewan. Fiuh&#8230;.</p>
<p>Sampai-sampai saya lelah sendiri menghadapi keluhan-keluhan yang terlontar hampa di pikiran saya.</p>
<p>Tepat waktu maghrib ketika saya sampai di angkringan Lik Gembus masih dalam diam. Suara cempreng nan ceria Lik Gembus belum mampu membuka gembok mulut diam saya. ”Sedang banyak pikiran ya, Mbak Cenil?” sapa Lik Gembus sambil mengelap gerobak angkringannya yang masih setengah kosong. Sebagian barang dagangan titipan belum datang. ”Sebentar <em>nggih</em> wedang jahe gepuknya, belum jadi apinya ini.” ucap Lik Gembus berusaha mencairkan suasana.</p>
<p>Rasanya kok emosi saya semakin fluktuatif mendengar minuman favorit saya belum siap untuk dihidangkan. ”Gimana sih Lik, <em>wong</em> jam sekian kok masih belum siap semua lho? Heran saya, perasaan hari ini kok banyak yang tidak benar ya? Nggak dosen, nggak udara, nggak cowok ganteng, nggak wedang jahe, semua tidak ada yang beres!”cerocos saya penuh kekesalan.</p>
<p>Mendengar respon saya yang agak ektrem, Lik Gembus sempat melongo dan serbetnya yang bau apeknya bisa tercium dari tempat saya duduk itu hampir saja masuk dalam bara api arang yang baru saja disulutnya. Sambil melompat, dikibas-kibaskannya serbet itu, api yang sempat membakar ujungnya mati dan meninggalkan bekas hitam dan bau gosong. ”Aduh Mbak, ini lihat, serbet saya sampai terbakar, gara-gara saya kaget melihat Mbak Cenil marah-marah tidak jelas seperti itu&#8230;. Ada apa <em>to </em>Mbak, <em>mbok yo </em>kalau ada masalah itu cerita saja, biar lebih lega begitu perasaannya…” saran Lik Gembus sambil masih meniup-niup ujung serbet yang gosong itu, meskipun saya benar-benar tidak memahami apa tujuannya.</p>
<p>Saya menarik nafas panjang, merasa heran juga dengan diri saya sendiri. Sering kali saya merasa risih dengan orang-orang yang meng-update status di beberapa jejaring sosial yang isinya selalu mengeluh dan mengeluh, tidak pernah bersyukur, tidak mencari solusi untuk memperbaiki keadaan, tetapi saya kemudian menjumpai diri saya sendiri berada pada titik hobi mengeluh. Sedikit-sedikit mengeluh, sedikit-sedikit merasa paling tidak beruntung, sedikit-sedikit merasa tidak seharusnya menerima hal itu, tanpa ada sebuah permenungan yang menganalisis mengapa saya bisa mengalami dan mendapati kejadian itu. Saya risih mempunyai teman yang hanya suka mengeluh saja, tetapi tanpa saya sadari saya juga menjadi ketularan hobi buruk itu.</p>
<p>”Mbak, untung ya tidak hujan hari ini. Padahal dari pagi sudah mendung terus. Coba kalau sore ini hujan, kan Mbak Cenil jadi tidak bisa pulang kampus jalan kaki <em>nggih</em>?” ucap Lik Gembus memulai percakapan lagi.</p>
<p>“Iya, memang tidak hujan, tapi apa <em>sampeyan</em> tidak merasa gerah <em>to </em>Lik? Ini baju saya saja sampai lengket keringat.” balas saya sambil menengok malas-malasan untuk melihat apakah api pada anglo itu sudah cukup merata untuk ditumpangi cerek.</p>
<p>”Lho, malah bagus nggih Mbak Cenil, berkeringat kan sehat, membakar lemak. Itu saya amati akhir-akhir ini kok perut Mbak Cenil itu terlihat sedikit membuncit. Hehehe&#8230;.” ejek Lik Gembus sambil terkekeh.</p>
<p>Asem. Sedang bad mood kok malah tambah diledek. Terpaksa merengut sambil menahan tawa karena terprovokasi oleh kekeh tawa Lik Gembus.</p>
<p><em>Touche!</em> Itu yang saya rasakan. Hanya dari dua kalimat Lik Gembus sudah bisa menunjukkan kepada saya bahwa setidaknya keadaan sore ini perlu disyukuri, karena tidak hujan, dan karena bisa membakar lemak. Saya yakin, jika diteruskan, Lik Gembus akan mampu mengobral kalimat-kalimat yang bertolak belakang dengan hobi mengeluh saya. Membuat saya menjadi penasaran mengapa, seorang Lik Gembus, bakul angkringan kampung, begitu bisa memandang segala sesuatu dengan positif.</p>
<p>”Lik, kalau hujan, dagangan <em>sampeyan</em> kan sepertinya tidak begitu laris ya?” pancing saya pada Lik Gembus.</p>
<p>Sambil menata bungkusan-bungkusan kecil berisi nasi kucing yang masih hangat karena baru saja diantar oleh <em>loyal supplier </em> Lik Gembus menjawab, ”<em>Woalah</em> Mbak, Mbak&#8230;. yang namanya orang jualan itu ya kadang rame kadang sepi, kadang habis kadang sisa, kadang untung kadang rugi. Itu sudah biasa&#8230;. yang penting kan bagaimana kita me-<em>minit</em> (demikian cara Lik Gembus melafalkan me-manage) pendapatan kita disaat rame dan untung. Toh saya masih bersyukur, boleh berjualan di tempat ini, bisa buka setiap sore sampai larut malam, bisa berjualan sambil mengobrol dengan mahasiswa-mahasiswa yang berpengetahuan luas dan punya semangat yang tinggi, sehingga saya pun ketularan semangat yang ditunjukkan oleh <em>denmas den ayu </em>mahasiswa itu setiap hari. <em>Lak nggih to,</em> Mbak Cenil?”</p>
<p>Kena lagi. Semangat bagaimana? <em>Lha wong</em> saya saja makin hari malah semakin banyak mengeluh saja. Tidak menunjukkan semangat berkobar yang seharusnya menjadi <em>stereotype</em> generasi muda. Padahal saya tahu dari beberapa buku-buku dan artikel tentang motivasi bahwa mengeluh tidak akan memecahkan masalah dan malah akan membawa kita pada situasi yang selalu menjadi tidak baik, tidak bisa diterima, dan selalu kekurangan. Tetapi saya selalu membantahnya sendiri dengan pernyataan bahwa manusia itu wajar saja jika mengeluh karena mengalami sesuatu yang tidak sesuai dengan kehendaknya.</p>
<p>”Monggo Mbak Cenil, jangan lupa ditiup-tiup dulu, masih panas.” ucapan Lik Gembus sambil menyodorkan wedang jahe gepuk itu menyadarkan lamunan saya. Sambil meniupinya, saya malah jadi tergelitik untuk bertanya-tanya lebih jauh pada Lik Gembus, ”Lik, apa <em>sampeyan</em> itu pernah merasa tidak terima punya jalan hidup yang seperti ini?”</p>
<p>”Maksudnya apa Mbak?” sahutnya dengan mengerutkan kening di jidatnya yang berminyak itu. Segera saja saya menjelaskan, ”Maksud saya, apa <em>sampeyan </em>itu pernah merasa tidak terima punya hidup seperti ini, jadi bakul angkringan, hidup pas-pasan, perlu sangat berhati-hati mengelola uang supaya anak <em>sampeyan </em> si Kenthus itu bisa terus sekolah? Pernah protes tidak dengan Tuhan?”</p>
<p>Seketika saya melihat Lik Gembus malah tertawa terkekeh-kekeh segera setelah saya menyelesaikan uraian saya. ”Mbak Cenil itu lucu <em>jhe,</em> <em>lha wong</em> Gusti kok diprotes.<em> Lha</em> jelas tidak akan bisa ada hasilnya. Kalau mau merubah nasib ya kita harus berusaha <em>to</em> ya&#8230;.. <em>Ora omah, ora mamah</em> ,Mbak. Mengeluh itu pasti pernah dilakukan oleh semua orang. <em>Lak njih to?</em> Tinggal apa kita terus menerus hanya mengeluh dan mengeluh saja, atau apa kita berusaha sehingga keinginan untuk mengeluh itu tak sempat ada di pikiran kita. Lha kalau saya ini mbak, kalau saya terlalu banyak mengeluh, maka gorengan saya bisa gosong-gosong, bikin teh bisa keliru pakai garam, beli arang bisa ke toko alat jahit. Lak yo malah <em>cotho</em> to Mbak? Kalau saya nggak bisa jualan kan bisa lebih gaswat. Bisa-bisa saya nggak dikeloni lagi sama simboknya Kenthus. Hehehe&#8230;.”</p>
<p>Saya manggut-manggut dan masih terheran-heran dengan kesederhanaan pola pikir Lik Gembus yang sepertinya menampar saya cukup keras meskipun tanpa dia sadari. Seorang bakul angkringan yang sehari-hari selalu berpikir keras untuk mengatur pendapatan yang pas-pasan  dan pengeluarannya untuk hidup tetapi selalu bisa berpikir positif untuk selalu mensyukuri keadaannya, tetap berusaha yang terbaik menjalani harinya dan selalu bersemangat untuk menyongsong hari esok. Sementara saya, yang notabene adalah pelajar teladan waktu SD, sekolah di SMP dan SMA favorit dan bisa kuliah di perguruan tinggi negeri, orang tua yang mampu membiayai dengan (se)cukup(nya), mendapat uang saku yang masih bisa untuk sesekali dalam satu bulan membeli pizza walaupun yang berukuran <em>single</em>, malah selalu saja mengeluarkan keluhan-keluhan baik yang sampai dikeluarkan dari mulut saya atau yang hanya sempat terpikir dalam otak saya. Situasi yang kurang bersyukur ini lah yang membuat saya selalu senantiasa merasa kekurangan, membuat saya mengeluh dan melempar jauh-jauh semangat berjuang entah kemana. Tapi kali ini, saya bersyukur, karena merasa beruntung bisa dipertemukan dengan Lik Gembus untuk belajar pada kebersahajaannya. Pada rasa bersyukurnya yang membuat wajahnya selalu terlihat segar dan sumringah, meskipun jidatnya tetap saja selalu berminyak.</p>
<p>”Lik, ini nasi oseng-oseng-nya harganya dari saya naik lho Lik, lha wong sayuran baru mahal-mahalnya jhe.” tiba-tiba lamunan saya terpecah oleh suara seorang pemasok nasi oseng-oseng langganan Lik Gembus.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dengan wajah murung Lik Gembus mengeluh,” Waduh, berarti saya juga harus menaikkan harga jualnya ini. Wis&#8230;. jannn&#8230;. alamat diprotes para pelanggan setia Angkringan Ceria Lik Gembus ini&#8230; Kalau nggak dinaikkan bisa-bisa saya yang diprotes <em>Simboknya</em> Kenthus karena pemasukan berkurang. <em>Lelakoning urip</em>. Ckckck&#8230;. ”</p>
<p>Great! Ternyata Lik Gembus masih manusia biasa juga.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Salam,</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lby (16/12/10;11:05)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Disclaimer:</p>
<p>Tokoh-tokoh yang ada dalam tulisan ini hanyalah fiktif belaka. Ide tulisan diambil dari kejadian yang ada di lingkungan sekitar maupun yang ada dalam imajinasi penulis yang diangkat dalam bentuk cerpen sebagai bentuk refleksi sehingga penulis berharap pembaca bisa saling menyentuh hati satu dan yang lain.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pic from:</p>
<p>http://2.bp.blogspot.com/_er9Aou2lZiE/TP7WB1JG26I/AAAAAAAAAE8/nBkWqA0muEE/s1600/421008297_4809bd7b35.jpg</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/lembayungsolo.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/lembayungsolo.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/lembayungsolo.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/lembayungsolo.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/lembayungsolo.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/lembayungsolo.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/lembayungsolo.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/lembayungsolo.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/lembayungsolo.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/lembayungsolo.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/lembayungsolo.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/lembayungsolo.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/lembayungsolo.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/lembayungsolo.wordpress.com/118/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lembayungsolo.wordpress.com&amp;blog=2613609&amp;post=118&amp;subd=lembayungsolo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lembayungsolo.wordpress.com/2011/02/26/mengeluh-itu-manusiawikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/67d3cab7ec0bf61c4da0ee8e6d3a60fd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">lembayungsolo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lembayungsolo.files.wordpress.com/2011/02/sigh.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">sigh</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kematian yang Dihargai Murah</title>
		<link>http://lembayungsolo.wordpress.com/2011/02/26/kematian-yang-dihargai-murah/</link>
		<comments>http://lembayungsolo.wordpress.com/2011/02/26/kematian-yang-dihargai-murah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Feb 2011 02:35:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lembayungsolo</dc:creator>
				<category><![CDATA[articles]]></category>
		<category><![CDATA[Cenil dan Gembus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lembayungsolo.wordpress.com/?p=115</guid>
		<description><![CDATA[Lembayung – SOLO the spirit of java Berjalan dengan langkah berat karena kaki agak memar terbentur pojok meja kecil tempat saya menyelesaikan laporan praktikum semalam, saya melangkahkannya ke arah angkringan Lik Gembus yang saya harap sore ini dia membuka warungnya. Sedikit bete, karena ketidak-jualan angkringan Lik Gembus kemarin malam mengakibatkan saya kedinginan karena tidak bisa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lembayungsolo.wordpress.com&amp;blog=2613609&amp;post=115&amp;subd=lembayungsolo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Lembayung – SOLO the spirit of java</p>
<p><a href="http://lembayungsolo.files.wordpress.com/2011/02/gempa-padang.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-116" title="gempa padang" src="http://lembayungsolo.files.wordpress.com/2011/02/gempa-padang.jpg?w=497" alt="" /></a></p>
<p>Berjalan dengan langkah berat karena kaki agak memar terbentur pojok meja kecil tempat saya menyelesaikan laporan praktikum semalam, saya melangkahkannya ke arah angkringan Lik Gembus yang saya harap sore ini dia membuka warungnya. Sedikit bete, karena ketidak-jualan angkringan Lik Gembus kemarin malam mengakibatkan saya kedinginan karena tidak bisa menyeruput wedang jahe gepuk panas favorit saya, yang selanjutnya berdampak pada saya mengerjakan laporan praktikum di dalam kerubut selimut tebal sehingga agak kesusahan mengetik. Semalam menggigil, efek kurang enak badan.</p>
<p>Dari kejauhan sudah terlihat tenda warna oranye terang yang menandakan beliau yang terhormat tuan Lik Gembus telah menunaikan kewajibannya sebagai tukang angkringan yang baik dan benar. Ya, sore ini tampaknya dia sudah berjualan. Sambil tetap mengarahkan kaki menuju ke sana, saya lihat Lik Gembus sudah melihat kepada saya, menatap saya sambil mengernyitkan kening, mungkin melihat cara berjalan saya yang agak berat dan lambat. Tak seperti biasa yang ringan seperti setengah berlari atau melompat kecil.</p>
<p>Belum sampai duduk saja, saya sudah mulai mengomel kecil, “Kemarin kemana sih Lik? Kok ngga jualan lho. Memangnya <em>sampeyan</em> sudah kaya ya? Mulai melalaikan kebutuhan <em>customer</em>?” Lik Gembus yang melihat saya cemberut dan mengomel itu terkekeh geli sambil menyeduhkan jahe gepuk dengan campuran gula batu dan gula kelapa. “Lho, saya kan belum pesan minum Lik?!” tanya saya keheranan lagi. Lik Gembus menyajikan gelas berkuping itu tepat di depan saya. Uap panas dan harum menguar menggelitik indera penciuman saya. Hmmmm&#8230;&#8230; aromanya nikmat sekali.</p>
<p>”Pertama-tama, perkenankan saya, Lik Gembus, mengucapkan permintaan maaf yang sebesar-besarnya karena kemarin sore terpaksa tidak dapat membuka warung angkringan. Hal ini dikarenakan tiba-tiba ada tetangga yang meninggal. Maaf, saya tidak bisa memberikan pengumuman sebelumnya sehingga banyak pelanggan yang <em>kecele</em> datang. Hal ini dikarenakan tetangga saya yang meninggal juga tanpa memberikan pengumuman terlebih dahulu. Demikian permohonan maaf saya kepada Mbak Cenil, Mas Karjo, dan Mas Bejan.” Cerocos Lik Gembus kepada kami, yang memang sore itu baru kami bertiga yang sedang nongkrong di sana. Disambut dengan terkekehnya kami bertiga demi mendengar ceramah singkat Lik Gembus. Orang meninggal <em>kok suruh woro-woro dulu. Opo yo tumon to</em>,Lik? Hehehe&#8230;.</p>
<p>Hm, membicarakan tentang orang meninggal yang meninggal, tiba-tiba saya jadi ingat dengan acara peringatan orang meninggal, atau <em>lelayu</em> , demikian kalau istilah orang jawa. Segala macam kepercayaan beserta pernak-perniknya, mulai dari rumah duka yang harus selalu dijaga sanak keluarga semenjak bagian dari anggota keluarganya berpulang, tidak boleh ada kegiatan masak-memasak, hingga menyediakan saputangan yang didalamnya dimasuki uang recehan yang dibagikan kepada pelayat. Tak lupa pula, seperti halnya acara resepsi pernikahan, di sudut muka tempat penerima tamu, disiapkan pula kotak tempat sumbangan. Hal yang wajar. Berdasarkan budaya sekitar.</p>
<p>Sambil menyeruput minuman saya, iseng saya bertanya pada Lik Gembus, ”Lik, menurut sampeyan, harusnya lebih besar nyumbang orang kawinan apa orang kematian?” Sambil mengeringkan gelas dan sendok dengan serbet yang sudah tidak tepat bila dikatakan putih lagi, dia menjawab, ”Lha yo,biasanya lebih besar kalau menyumbang kawinan, Mbak Cenil. Saya kalau menyumbang kawinan biasanya rata-rata dua puluh ribu sampai dua puluh lima ribu. Tapi kalau kematian biasanya hanya lima ribu saja. Lha ada apa to, kok tanya-tanya sumbangan?” Tanpa memperhatikan pertanyaan Lik Gembus, saya balik bertanya lagi, ”Lha menurut <em>sampeyan</em> alasannya kenapa kok begitu?” Lik Gembus tanpa pikir panjang langsung menyahut, ”Lho, ya jelas karena orang punya kerja <em>mantenan</em> itu biayanya lebih banyak Mbak Cenil, bisa berjut-jut, kita datang <em>njagong</em> juga disuguhi makanan, <em>wareg-reg-reg, </em>jadi ya wajarlah kalau menyumbangnya juga lebih banyak. Sudah <em>memper</em> itu. Lagipula memang sudah kebiasaannya seperti itu. Lebih besar uang sumbangan untuk acara kawinan.” Saya lihat Lik Karjo dan Lik Bejan juga manggut-manggut, artinya menyetujui penjelasan dari Lik Gembus.</p>
<p>Sambil menyendokkan nasi teri ke dalam mulut saya, saya memikirkan jawaban Lik Gembus itu. Tidak ada yang salah dengan jawaban darinya. Memang wajar pertukaran antara amplop sumbangan dengan piring-piring kenikmatan. Demikian pula antara amplop duka cita dengan air mineral kemasan gelas. Ah&#8230; apakah saya yang aneh? Yang mengurusi tetek bengek nominal sumbangan yang sebenarnya masih tabu untuk dibicarakan di sebagian daerah? Yang bagi saya peristiwa kematian adalah sebuah awal dari hidup baru yang seharusnya dirayakan oleh sanak keluarga yang ditinggalkan? Babak kehidupan baru? Sanak keluarga yang harus terus melanjutkan hidup. Sukur-sukur dengan membuka kotak sumbangan duka cita yang bisa dijadikan modal untuk langkah mereka nantinya. Ah&#8230;. jika yang meninggal adalah sang ayah dengan usia produktif, meninggalkan istri yang tak punya mata pencaharian dan anak-anak yang masih sangat kecil-kecil? Ah&#8230;. tapi pasti mereka pun tak pernah berharap akan bergantung pada kotak duka cita itu&#8230;. Hanya saja, ya&#8230;., hanya saja&#8230;. ahh&#8230; saya pun tak sanggup meneruskan pengelanaan pikiran saya ini. Cukup. Kembali kepada kebiasaan. Budaya. Tradisi. Baiklah kalau begitu.</p>
<p>”Lha maunya Mbak Cenil bagaimana to? Apa mau saya sumbang sedikit pas Mbak Cenil mantenan? Trus sisanya saya tambahkan ke amplop sumbangan duka cita kalau Mbak Cenil besok meninggal? Hahahaha&#8230;. ada-ada saja <em>panjenengan</em> itu!” canda Lik Gembus pada saya yang saya tanggapi dengan merengut, “Hush, apa <em>sampeyan </em>yakin bakalan <em>urip</em> lebih lama daripada saya Lik? <em>Sampeyan </em>itu lebih tua dari saya lho&#8230;” samar pikiran saya melayang lagi, merekam gambar-gambar acara peringatan kematian yang pernah saya datangi, dari satu acara, ke acara yang lain, semuanya sama, hitam, pilu, berduka, dan pojokan tempat kotak duka cita yang rendah diri&#8230;.</p>
<p>Sayup suara <em>tembang macapat</em> Lik Gembus yang lirih sedikit demi sedikit menguat, seiring dengan kembalinya saya dari pengembaraan imaji. Tembang Durma, tembang yang <em>wingit</em>.</p>
<p><em>”Kae manungsa golek upa angkara<br />
Sesingidan mawuni<br />
nggawa bandha donya<br />
mbuwang rasa agama<br />
Nyingkiri sesanti ati<br />
Tan wedi dosa<br />
Tan eling bakal mati&#8230;”</em></p>
<p>Salam,</p>
<p>Lby (16-07-10;15:55)</p>
<p>Disclaimer:</p>
<p>Tokoh-tokoh yang ada dalam tulisan ini hanyalah fiktif belaka. Ide tulisan diambil dari kejadian yang ada di lingkungan sekitar maupun yang ada dalam imajinasi penulis yang diangkat dalam bentuk cerpen sebagai bentuk refleksi sehingga penulis berharap pembaca bisa saling menyentuh hati satu dan yang lain.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/lembayungsolo.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/lembayungsolo.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/lembayungsolo.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/lembayungsolo.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/lembayungsolo.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/lembayungsolo.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/lembayungsolo.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/lembayungsolo.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/lembayungsolo.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/lembayungsolo.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/lembayungsolo.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/lembayungsolo.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/lembayungsolo.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/lembayungsolo.wordpress.com/115/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lembayungsolo.wordpress.com&amp;blog=2613609&amp;post=115&amp;subd=lembayungsolo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lembayungsolo.wordpress.com/2011/02/26/kematian-yang-dihargai-murah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/67d3cab7ec0bf61c4da0ee8e6d3a60fd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">lembayungsolo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lembayungsolo.files.wordpress.com/2011/02/gempa-padang.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">gempa padang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Beasiswa untuk Si Bodoh</title>
		<link>http://lembayungsolo.wordpress.com/2011/02/26/beasiswa-untuk-si-bodoh/</link>
		<comments>http://lembayungsolo.wordpress.com/2011/02/26/beasiswa-untuk-si-bodoh/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Feb 2011 02:20:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lembayungsolo</dc:creator>
				<category><![CDATA[articles]]></category>
		<category><![CDATA[Cenil dan Gembus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lembayungsolo.wordpress.com/?p=108</guid>
		<description><![CDATA[Beasiswa untuk Si Bodoh Lembayung – SOLO the spirit of java &#160; &#160; Udara panas sekali meski matahari sudah terbenam sejak sejam yang lalu. Agak malas-malasan saya menyeret kaki ke angkringan Lik Gembus. Dekat, hanya beberapa puluh meter dari kost saya, sehingga untuk menghayati awal malam yang gerah itu saya berkostumkan kaos oblong yang sudah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lembayungsolo.wordpress.com&amp;blog=2613609&amp;post=108&amp;subd=lembayungsolo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Beasiswa untuk Si Bodoh</span></strong></p>
<p>Lembayung – SOLO the spirit of java</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://lembayungsolo.files.wordpress.com/2011/02/beasiswa-jpg1.gif"><img class="aligncenter size-medium wp-image-113" title="beasiswa-jpg" src="http://lembayungsolo.files.wordpress.com/2011/02/beasiswa-jpg1.gif?w=300&#038;h=294" alt="" width="300" height="294" /></a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Udara panas sekali meski matahari sudah terbenam sejak sejam yang lalu. Agak malas-malasan saya menyeret kaki ke angkringan Lik Gembus. Dekat, hanya beberapa puluh meter dari kost saya, sehingga untuk menghayati awal malam yang gerah itu saya berkostumkan kaos oblong yang sudah sedikit sobek di bagian sambungan lengan, dan dipadukan dengan celana bunga-bunga sepanjang lutut. Melewati beberapa warung makan yang lain yang tak begitu menyita perhatian saya sampai telinga saya menangkap suara lantunan nyanyian yang jernih. Pengamen kecil di warung pecel lele. Saya amati sepintas sambil memperlambat langkah kaki saya.</p>
<p>Tak terasa sudah sampai di angkringan Lik Gembus, saya duduk masih sambil membayangkan suara pengamen kecil tadi. Jernih. Seperti suara air yang sedang dituang.</p>
<p>”Jahe apa teh tawar, Mbak Cenil?”tawar Lik Gembus sebelum saya sempat memesan minuman.</p>
<p>”Air putih dicemplungi prongkolan es aja Lik, gerah sekali malam ini.” pesan saya sambil kembali membayangkan pengamen tadi.</p>
<p>”Ada pikiran apa toh Mbak,sampeyan kok dari tadi kelihatannya ngalamun terus lho. Biasanya belum menaruh pantat aja Mbak Cenil sudah trettetowet pesan ini-itu atau sapa kanan-kiri. Mbok kalau ada yang mengganggu pikiran,silahken curhat sama saya. Jelek-jelek gini saya itu sering dimintai sumbang saran sama tetangga-tetangga saya lho, terutama soal bagaimana cara ngerigenke uang biar bisa nyekolahkan si Kenthus meski saya hanya bakul angkringan,Mbak.” cerocos Lik Gembus.</p>
<p>”Hush Lik, memangnya saya tampang ibu-ibu yang sudah punya momongan apa,kok minta saran sama sampeyan gimana caranya mengatur keuangan supaya bisa nyekolahkan anak. Ngece tenan iki Lik Gembus, saya tersinggung. Masih kinyis-kinyis, hijau, dan kemrius gini lho. Belum alum dan kisut.”jawab saya sekenanya.</p>
<p>”Elhoo&#8230;, kok malah ngetrill suaranya to Mbak, malah emosi. Hahaha&#8230; Lha lagian kok malah ngomongin hijau, kemrius, alum, kisut, sejak kapan Mbak Cenil jadi bakul Apel Malang?” goda Lik Gembus sambil ketawa ngakak sendiri, merasa kelakarnya lucu selucu-lucunya.</p>
<p>Belum sempat saya membalas kelakar Lik Gembus tiba-tiba terdengar nyanyian ”Mau dibawa kemanaaa hubungan kitaaa&#8230;.., jika kau terus menunda-nunda dan tak pernah nyatakan cinta,mau di bawa kemana hubungan kita, ku tak akan terus jalani tanpa ada ikatan pasti antara kau dan akuuu&#8230; ” Suara jernih itu, suara yang masih terngiang jelas di kepala saja sejak saya mendengarnya dalam perjalanan ke angringan ini tadi.</p>
<p>Saya menoleh mencari sumber suara itu. Pengamen kecil, pemilik suara jernih itu sedang berdiri santai sambil memainkan kecrekan dan terus menyanyi di pinggir gerobak angkring. Sengaja saya tak memandanginya dan lebih memilih memakukan pandangan saya pada gelas air es di depan saya. Klop sekali. Suaranya dan air es membuat malam yang gerah ini menjadi sejuk dan nyaman. Saya kaget ketika ada jari kecil yang mencolek pundak saya untuk meminta uang hasil konser mininya dia. Saya melamun lagi tadi.</p>
<p>Lik Gembus mengulurkan recehan padanya, ”Wis ini, sudah, jangan ganggu mbaknya ini. Dia itu gini (sambil menyilangkan tangan di dahinya, maksudnya mau mengatai saya agak stress,hahaha&#8230;)”</p>
<p>”Wooo&#8230; Lik Gembus ini ya, bener-bener ya&#8230;, dari tadi cuma bisa meledek saya terus, awas nanti saya kudeta angkringmu, biar istrimu tidak bisa beli setagen baru dan anakmu ndak bisa sekolah. Mau???!!!” balas saya sambil pura-pura membelalakkan mata.</p>
<p>Lik Gembus hanya nyengir lebar sambil tangannya mengibas menyuruh pengamen kecil itu pergi.</p>
<p>Saya kaget ketika pengamen kecil ini nekad tidak mau pergi dan malah kembali mencolek kecil pundak saya dengan jari telunjukknya yang kurus dan dekil. Saya mengambil nafas panjang&#8230;</p>
<p>”Saya ndak punya duit receh Dik.” ucap saya sambil memandang wajahnya yang tirus dan tentu saja dekil itu.</p>
<p>”Pinjam pakde-nya yang jual angkringan dulu Mbak.”jawab anak itu sambil nyengir lebar.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Walahhh&#8230;., responnya sungguh di luar perkiraan saya. Mana ada pengamen yang diberi alasan tak ada uang receh akan meng-counterback dengan jawaban seperti itu. Jadi penasaranlah saya dengan pengamen itu.</p>
<p>”Ngomongmu itu kok ya ngawur, sak penake wudelmu dhewe! Sini, duduk!” perintah saya padanya.</p>
<p>”Duitnya aja Mbak, kerjaan saya masih banyak jhe!”</p>
<p>Wooo lha ngawur, bener-bener ngawur level kengeyelan curut kecil ini, pikir saya.</p>
<p>”Saya sudah bilang to, saya ndak punya uang receh. Makanya kamu saya suruh duduk sini, saya mau nraktir kamu makan. Mau nggak?” tanya saya padanya.</p>
<p>”Ndak Mbak, terima kasih, saya mau duit ongkos saya ngamen di sini saja. Saya ndak mau makan, saya masih harus ngamen 3 putaran lagi.” jawabnya cepat.</p>
<p>”Kenapa? Pilih duit supaya bisa buat main judi? Atau mendem sama teman-temanmu?”tuduh saya enteng, tanpa berperasaan.</p>
<p>”Pun Mbak&#8230;, ndak usah diladeni itu anak kecil itu. Paling-paling memang duitnya habis buat hal-hal ndak bener. ” Lik Gembus ikut nyeletuk.</p>
<p>Saya terdiam sebentar. Saya lihat mata pengamen kecil itu berkilat sepintas. Entah, saya tak tahu apa artinya.</p>
<p>”Sini,duduk, temani saya ngobrol ya.” ajak saya sambil menarik tangan dekilnya, dan memang malam itu baru ada saya di angkringan Lik Gembus.</p>
<p>Dia duduk rikuh di samping saya.</p>
<p>”Ya sudah Mbak, saya temani ngobrol, tapi nanti tetap kasih duit ya!!” jawabnya ngeyel.</p>
<p>Aduhhh&#8230;, nih anak memang ngeyelnya bikin saya sebel. Duit,duit,duit.</p>
<p>Saya pesankan es teh untuk pengamen itu dan mengambilkan beberapa bungkus nasi kucing dan saya letakkan di depannya.</p>
<p>”Nih, makan.” perintah saya.</p>
<p>”Masih sekolah?” tanya saya lagi, mulai menginterogasi dia.</p>
<p>”Kelas 6, Mbak.” jawabnya singkat sambil mengulurkan tangan menerima gelas es teh dari Lik Gembus.</p>
<p>”Ranking?”</p>
<p>”Ndak ranking,Mbak.” jawabnya.</p>
<p>”Kenapa,malas belajar ya? Karena ngamen?” tanya saya lebih jauh.</p>
<p>”Karena saya harus ngamen Mbak, soalnya bapak saya cuma tukang sol sepatu, dan ibu ngurusin adik yang masih kecil-kecil.” sambil meneguk langsung habis es teh yang baru diterimanya tadi.</p>
<p>”Nanti mau masuk SMP mana?” kembali saya bertanya padanya, meskipun sebenarnya saya sudah tahu jawabannya. Pada kondisi seperti pada pengamen kecil itu, kecil kemungkinan dia akan melanjutkan sekolahnya.</p>
<p>”Ndak sekolah mbak. Ndak ada biaya.”jawabnya singkat.</p>
<p>”Lho memangnya sekarang apa sudah nda ada macam beasiswa-beasiswa gitu to,Mbak?” tanya Lik Gembus yang ternyata sedari tadi ikut memperhatikan pembicaraan kami.</p>
<p>”Beasiswa cuma untuk yang pinter-pinter,pakde. Lha wong saya bodho jhe.” curut kecil itu menjawab pertanyaan Lik Gembus yang ditujukan pada saya.</p>
<p>Saya terdiam. Jawaban pengamen cilik itu seperti menembakkan protes pedas akan keadaan di sekitarnya. Pikiran saya pun mulai melayang, mencari-cari jawaban atas pernyataannya yang sebenarnya bagi saya adalah sebuah pertanyaan besar. Apakah memang seharusnya demikian, bahwa beasiswa hanya ditujukan kepada mereka yang pintar-pintar saja. Baik itu dari kalangan mampu atau tidak mampu. Karena terkadang label ”beasiswa prestasi” tidak hanya dari kalangan masyarakat tidak mampu saja, yang lebih diutamakan adalah prestasi akademiknya.</p>
<p>Apakah benar bahwa hak warga negara untuk memperoleh pendidikan harus dibatasi oleh kemampuan otak mereka dalam mengolah informasi edukatif yang diperolehnya di sekolah? Jika beasiswa hanya ditujukan kepada anak yang pintar, apakah anak yang tidak pintar dan tidak mampu tidak punya kesempatan untuk menerima pendidikan? Bukankah adalah sebuah pencapaian yang lebih jika dengan beasiswa dapat membuat anak bodoh berubah menjadi pintar? Karena sudah pasti lebih mudah memintarkan orang pintar.</p>
<p>Saya membayangkan pengamen cilik ini, yang karena keadaan memaksanya untuk tidak bisa konsentrasi belajar sehingga tidak bisa menunjukkan prestasi akademis. Yang lalu terpaksa tidak dapat melanjutkan sekolah karena tidak ada yang membiayai. Yang bodoh akan semakin bodoh dan terpinggirkan. Dari kaum marjinal dan akan menjadi penghuni abadi kaum strata marjinal.</p>
<p>Tiba-tiba lamunan saya dikagetkan oleh colekan jari dekil itu lagi,</p>
<p>”Mbak, boleh nggak nasi kucingnya saya bawa pulang?”</p>
<p>Saya lirik gundukan bungkus-bungkus nasi kucing yang saya letakkan di depannya tadi. Memang belum dia sentuh sedikit pun.</p>
<p>”Kok nggak dimakan? Nggak level ya makan angkringan?Hahaha&#8230;” tanya saya sambil ngakak,tanpa saya tahu apa sebenarnya yang saya tertawakan.</p>
<p>”Anu Mbak, biar bisa makan bareng bapak,ibu, dan adik-adik. Boleh ya dibawa pulang?” tanyanya dibarengi dengan tatapan matanya yang berkilat-kilat itu.</p>
<p>Saya terdiam lagi. Saya masih saja terkesima dengan pengamen kecil ini.</p>
<p>”Nih, tas plastik.” kata Lik Gembus sambil mengulurkan tas plastik hitam pada pengamen kecil itu.</p>
<p>”Yowis, ambil saja, berapa to jumlah keluargamu? Lima ya? Wis situ, ambil sepuluh bungkus, biar bisa makan dua-dua. Sama gorengan situ ambil sak karepmu wis.” Perintah saya sambil membantunya memasukkan bungkusan nasi kucing ke dalam tas plastik itu,yang tiba-tiba baru sampai bungkus kelima tas plastik itu sudah ditali oleh pengamen kecil tadi.</p>
<p>“Sampun Mbak, lima saja. Matur nuwun. Kami tidak biasa makan terlalu kenyang Mbak.”jawabnya ketika melihat saya akan bertanya padanya.</p>
<p>“Sudah ya Mbak, bayarin yah,dadah! Mubeng sik,pakde!!!” pamitnya pada saya dan Lik Gembus sambil setengah berlari ke arah barat.</p>
<p>Saya menarik napas panjang, bangkit berdiri dan mengulurkan uang untuk segera berpamitan juga pada Lik Gembus karena kepala saya mulai pening dengan pertanyaan-pertanyaan yang saya kesusahan menemukan jawabannya.</p>
<p>“Makanya Lik, anak sampeyan si Kenthus itu suruh belajar yang rajin biar pinter dan bisa dapat beasiswa. Soale yang bisa dapat beasiswa itu cuma murid pinter,pinter dan pinter.”</p>
<p>Dalam perjalanan pulang ke kost saya terbayang lagi suara jernih dalam alunan Mau Dibawa Kemana-nya Armada tadi, tapi kok saya merasa tiba-tiba liriknya berubah sendiri ya,</p>
<p>“Mau dibawa kemana negara kitaaa…..”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Cheers,</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lby (01-05-10;11:27)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Disclaimer:</p>
<p>Tokoh-tokoh yang ada dalam tulisan ini hanyalah fiktif belaka. Ide tulisan diambil dari kejadian yang ada di lingkungan sekitar maupun yang ada dalam imajinasi penulis yang diangkat dalam bentuk cerpen sebagai bentuk refleksi sehingga penulis berharap pembaca bisa saling menyentuh hati satu dan yang lain.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pic From:</p>
<p>http://matematikacerdas.files.wordpress.com/2010/01/beasiswa-jpg.gif</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/lembayungsolo.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/lembayungsolo.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/lembayungsolo.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/lembayungsolo.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/lembayungsolo.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/lembayungsolo.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/lembayungsolo.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/lembayungsolo.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/lembayungsolo.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/lembayungsolo.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/lembayungsolo.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/lembayungsolo.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/lembayungsolo.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/lembayungsolo.wordpress.com/108/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lembayungsolo.wordpress.com&amp;blog=2613609&amp;post=108&amp;subd=lembayungsolo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lembayungsolo.wordpress.com/2011/02/26/beasiswa-untuk-si-bodoh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/67d3cab7ec0bf61c4da0ee8e6d3a60fd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">lembayungsolo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lembayungsolo.files.wordpress.com/2011/02/beasiswa-jpg1.gif?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">beasiswa-jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Gambar Gentong atau Amlop</title>
		<link>http://lembayungsolo.wordpress.com/2009/11/25/101/</link>
		<comments>http://lembayungsolo.wordpress.com/2009/11/25/101/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 01:53:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lembayungsolo</dc:creator>
				<category><![CDATA[articles]]></category>
		<category><![CDATA[Cenil dan Gembus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lembayungsolo.wordpress.com/?p=101</guid>
		<description><![CDATA[Lembayung – SOLO the spirit of java “Lik, jahe panas Lik!” teriak saya dalam radius lima meter menuju angkringan Lik Gembus. Suara saya sedikit teredam hujan yang lumayan deras senja itu. ”Lho…lho…lho…, lha kok hujan-hujanan to Mbak Cenil? Jalan kaki? Motor kemana?” tanya Lik Gembus sambil mengulurkan sebuah serbet yang masih terlipat dan berwarna putih [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lembayungsolo.wordpress.com&amp;blog=2613609&amp;post=101&amp;subd=lembayungsolo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div><strong>Lembayung – SOLO the spirit of java</strong></div>
<div>“Lik, jahe panas Lik!” teriak saya dalam radius lima meter menuju angkringan Lik Gembus. Suara saya sedikit teredam hujan yang lumayan deras senja itu.</div>
<div>”Lho…lho…lho…, lha kok hujan-hujanan to Mbak Cenil? Jalan kaki? Motor kemana?” tanya Lik Gembus sambil mengulurkan sebuah serbet yang masih terlipat dan berwarna putih (dulunya) itu.</div>
<div>”Itu bersih kok.” sambung Lik Gembus demi melihat saya sedikit enggan menerimanya.</div>
<div>Segera serbet putih <em>mangkak</em> itu berpindah ke tangan lalu kemudian ke kepala saya. Hanya dengan beberapa kali gosokan saja sudah membuat serbet itu kebas oleh rambut basah saya, dan tiba-tiba saja bau <em>apek</em> menguar dari rambut saya yang sudah berkurang kadar kebasahannya itu.</div>
<div>”Anu Mbak Cenil, <em>nuwun sewwwuuu</em>…, memang serbetnya agak <em>apek</em>, karena musim hujan begini cucian susah kering.” kata Lik Gembus sambil mengeluarkan cengiran andalannya, begitu melihat hidung saya mengernyit menahan bau.</div>
<div>”<em>Asem</em> Lik, <em>sampeyan</em> ngerjain saya ya?” gerutu saya sambil meniup dan menyeruput wedang jahe.</div>
<div>”Hahaha…. nuwun sewuuu….. mana berani saya kurang ajar sama calon bu dokter.” sambar Lik Gembus sambil memperagakan gerakan menyembah-nyembah ala kethoprak mataraman.</div>
<div>”Hush, ngawur! Yang calon dokter itu siapa lho? <em>Sampeyan</em> itu hobi kok sok tau.”</div>
<div>”Lho, lha itu pakai jas putih <em>punapa sanes</em> baju dokter hayooo…??” tanya Lik Gembus sambil menunjuk arah baju saya.</div>
<div>”Hahaha…. Lik, ini namanya jas praktikum. Saya kuliah di pertanian, lha ini tadi habis praktikum ngudhal-udhal kodok. Jadi ini bukan baju dokter. <em>Pripun, dhong mboten</em>?“ saya menjelaskan perihal baju putih ini kepada Lik Gembus.</div>
<div>Saya lihat Lik Gembus <em>manthuk-manthuk </em>sambil mengipasi anglo yang di atasnya ada sebuah cerek air dari seng yang sedang mengepul dengan pekat. Saya kembali menikmati wedang jahe yang sudah berkurang seperempatnya itu sambil menebarkan pandangan ke seluruh area angkringan ini. Lumayan ramai senja itu. Ada empat orang pembeli selain saya. Tiga orang laki-laki dan seorang perempuan paruh baya. Semua wajah mereka terlihat santai menikmati senja yang hujan dan dingin ini.</div>
<div>”Yowis Mbak, kalo ndak jadi dokter ya jadi bu dokter saja kan ya sama saja to.” tiba-tiba Lik Gembus memecah keheningan.</div>
<div>”Lho, apa lagi to Lik, maksudnya apa pula itu? Tidak jadi dokter tapi jadi bu dokter?” tanya saya kebingungan.</div>
<div>”Lha ya panjenengan nggak jadi dokter tapi kawin saja sama pak dokter. Nanti lak dipanggil bu dokter. Hahaha… <em>Dos pundi</em> ide saya? <em>Sae</em> to?” Lik Gembus tertawa dengan nuasa bangga yang pekat.</div>
<div>Seluruh pembeli di angkringan itu ikut tertawa mendengarkan guyonan Lik Gembus, termasuk saya.</div>
<div>”Halah, belum mikir kawin saya, Lik. Masih panjang jalan saya.” jawab saya sok diplomatis.</div>
<div><a href="http://baltyra.com/wp-content/uploads/2009/11/genthong1.jpg"><img title="tempayan" src="http://baltyra.com/wp-content/uploads/2009/11/tempayan.JPG" alt="tempayan" width="415" height="600" /></a></div>
<div>”Anu Mbak, ngomong-ngomong soal kawin mawin, 2 bulan ini lho Mbak, lagi banjir orang kawin. Mungkin bulan bagus kali nggih? Lha wong undangan saja seminggu ada dua sampai tiga kali lho Mbak saya ini. <em>Atase</em> saya itu <em>mung </em>pedagang angkringan, tapi teman saya buanyak lho Mbak. Lha <em>ning</em> ya itu Mbak, kok ya di undangan itu kok semua digambari <em>genthong</em> Mbak, alias cuma mau disumbang <em>dhuwit</em>.</div>
<div>Jaman pun berubah Mbak. Wis, kalo sudah begini ya <em>tombok</em> terus Mbak. Angkringan itu untungnya seberapa to Mbak. ” cerocos Lik Gembus, campuran kebanggaan karena mempunyai banyak teman dan disukai oleh mereka sehingga ketika mereka punya kerja berniat untuk berbagi kebahagiaan dengan Lik Gembus melalui undangan resepsi, tetapi ada pula kesan Lik Gembus sedikit keberatan dengan masalah ekonomi.</div>
<div>”Iyo Lik, undangan saya saja seminggu ini sudah dapat empat lho! Bulan ini saja saya sudah minus. Terpaksa nge-bon gaji bulan depan sama boss e.” seorang bapak dengan kacamata yang cukup tebal ikut berbagi rembug.</div>
<div>”Lha kalo mau <em>ndak</em> datang yo tetap harus nitip amplop juga to,Lik? <em>Jan tenan lho</em>, saya sampai bingung <em>ngerigenke</em> uang dari <em>bapake</em> anak-anak itu.” Ibu-ibu setengah baya yang duduk berdampingan dengan (sepertinya) suaminya ini bicara sambil melirik ke arah (sepertinya) suaminya. Yang dilirik pura-pura tidak dengar sambil terus mengunyah jadah bakar yang arangnya menempel pada bibir bagian bawahnya yang agak tebal.</div>
<div>Dua orang pembeli yang lain hanya diam saja tapi terlihat sangat menyimak pembicaraan ini, seperti saya.</div>
<div>Saya ingat beberapa kali ibu saya di rumah sering <em>nguda-rasa</em> kalau masa-masa kawin-mawin itu tiba. Banyak undangan kondangan, berarti banyak pengeluaran dari pos tidak terduga. Hal ini membutuhkan keuletan seorang ibu untuk bisa <em>meng-kiyak-kiyuk-ke</em> (mencari cara yang tepat) supaya uang belanja bulanan yang diberikan oleh sang suami bisa cukup untuk mengepulkan asap dapur selama selama satu bulan.</div>
<div>”Lik, lha kalo saya kawin besok, <em>sampeyan</em> pilih saya undang apa ndak” tanya saya tiba-tiba pada Lik Gembus.</div>
<div>Geragapan tapi segera Lik Gembus menjawab dengan mantap,”Harus diundang, Mbak!! <em>Mosok</em> ya <em>ndak</em>? <em>Tegel tenan wisss</em> Mbak Cenil <em>ki</em>! Tapi saya cuma bisa nyumbang semampu saya lho”</div>
<div>”Nah, itulah Lik, terkadang yang punya kerja itu ingin tidak mengundang orang-orang tertentu dengan alasan agar tidak terlalu merepotkan mereka dalam hal sumbang-menyumbang ini. Tetapi terkadang juga Lik Gembus kalau <em>ndak </em>diundang orang yang Lik Gembus kenal kan juga merasa <em>ndak</em> dianggap to? Serba salah kan Lik?” jelas saya pada Lik Gembus yang lalu ditanggapi dengan anggukan lima kepala secara simultan.</div>
<div><a href="http://baltyra.com/wp-content/uploads/2009/11/genthong2.jpg"><img title="wedding_invitation_1" src="http://baltyra.com/wp-content/uploads/2009/11/wedding_invitation_1.jpg" alt="wedding_invitation_1" /></a></div>
<div>Saya sendiri heran dengan kebiasaan yang terjadi di masyarakat kita ini. Mengadakan acara resepsi pernikahan secara besar-besaran, dengan membuat undangan yang di dalamnya ada gambar <em>genthong</em> besar atau amlop dan gambar bingkisan serta bunga yang disilang besar. Bingkisan dan bunga saja disilang besar, apalagi gambar tangan yang nongol otot-ototnya, alias diasumsikan sebagai sumbangan berupa tenaga yang jelas tak akan pernah masuk dalam daftar bentuk sumbangan yang diharapkan.</div>
<div>Jika diundang tetapi tidak datang, maka akan menjadi pertanyaan apakah yang tidak datang itu titip amplop sumbangan atau tidak. Jika tidak ada titipan, maka akan menjadi bahan pembicaraan yang tak akan bisa diputus begitu saja. Jangankan tidak menyumbang, <em>lha wong</em> menyumbang saja nominalnya pasti akan menjadi perhatian tersendiri, menjadi pembicaraan tersendiri.</div>
<div>Sebenarnya apakah esensi dari perayaan resepsi pernikahan itu? Ingin berbagi kebahagiaan dan meminta restu dari semua sanak saudara,kerabat dan kenalan?</div>
<div>Atau malah menjadi ladang bisnis baru yang begitu menggiurkan margin keuntungannya? (Saya jadi ingat, punya kenalan yang habis menikah malah bisa membeli mobil sedan baru <em>gresss</em> yang katanya dari hasil keuntungan sumbangan. Edan!) Malahan, sekarang ini marak sekali kredit yang ditawarkan untuk biaya pernikahan.</div>
<div>Ini sekedar trend? Atau akan menggeser nilai-nilai budaya guyup-rukun-gotong-royong dari nenek buyut dulu yang setiap mengadakan perayaan pernikahan selalu melibatkan warga di kampungnya tanpa memandang apa pun jenis sumbangan yang mampu mereka berikan? Apakah kita masih bisa mengubah paradigma baru yang mulai menggeser budaya gotong-royong nenek buyut canggah kita dari gerusan budaya modern atas nama bisnis?</div>
<div>Saya habiskan segelas wedang jahe saya dalam sekali tegukan.</div>
<div>”Lik, pokoknya besok kalo saya mantenan, sampeyan ndak saya undang.” ucap saya sambil mengulurkan dua lembar ribuan dan meninggalkan angkringan itu dengan hidung masih mengernyit menahan bau apek.</div>
<div><em>Cheers,</em></div>
<div><em>Lby (23/11/09; 14:26)</em></div>
<div><em>Disclaimer: </em></div>
<div>Tokoh-tokoh yang ada dalam tulisan ini hanyalah fiktif belaka. Ide tulisan diambil dari kejadian yang ada di lingkungan sekitar maupun yang ada dalam imajinasi penulis yang diangkat dalam bentuk cerpen sebagai bentuk refleksi sehingga penulis berharap pembaca bisa saling menyentuh hati satu dan yang lain.</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/lembayungsolo.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/lembayungsolo.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/lembayungsolo.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/lembayungsolo.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/lembayungsolo.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/lembayungsolo.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/lembayungsolo.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/lembayungsolo.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/lembayungsolo.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/lembayungsolo.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/lembayungsolo.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/lembayungsolo.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/lembayungsolo.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/lembayungsolo.wordpress.com/101/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lembayungsolo.wordpress.com&amp;blog=2613609&amp;post=101&amp;subd=lembayungsolo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lembayungsolo.wordpress.com/2009/11/25/101/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/67d3cab7ec0bf61c4da0ee8e6d3a60fd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">lembayungsolo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://baltyra.com/wp-content/uploads/2009/11/tempayan.JPG" medium="image">
			<media:title type="html">tempayan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://baltyra.com/wp-content/uploads/2009/11/wedding_invitation_1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">wedding_invitation_1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Potong Crew Cut untuk Bencana Negeriku</title>
		<link>http://lembayungsolo.wordpress.com/2009/11/16/potong-crew-cut-untuk-bencana-negeriku/</link>
		<comments>http://lembayungsolo.wordpress.com/2009/11/16/potong-crew-cut-untuk-bencana-negeriku/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Nov 2009 09:55:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lembayungsolo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cenil dan Gembus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lembayungsolo.wordpress.com/?p=97</guid>
		<description><![CDATA[Lembayung – SOLO the spirit of java Ah…, senang rasanya menginjakkan kaki di kota gudeg ini setelah tiga minggu ikut dalam barisan kaum pemudik musiman. Setiap kota punya aroma dan nuansa tersendiri, tetapi udara Ngayogyakarta selalu begitu kuat dan pekat akan udara kebersahajaan. Prasojo, begitu kalau orang Jawa bilang. Membuat tinggal di kota ini selalu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lembayungsolo.wordpress.com&amp;blog=2613609&amp;post=97&amp;subd=lembayungsolo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div><strong>Lembayung – SOLO the spirit of java</strong></div>
<div>Ah…, senang rasanya menginjakkan kaki di kota gudeg ini setelah tiga minggu ikut dalam barisan kaum pemudik musiman. Setiap kota punya aroma dan nuansa tersendiri, tetapi udara Ngayogyakarta selalu begitu kuat dan pekat akan udara kebersahajaan. Prasojo, begitu kalau orang Jawa bilang. Membuat tinggal di kota ini selalu merasa rileks dan nrimo, mungkin agak kurang konstruktif untuk generasi muda, tapi baik untuk membentukan nilai pada alam bawah sadar.</div>
<div></div>
<div>Bergegas saya keluar dari peron Stasiun Lempuyangan, memanggil becak, menyebutkan nama daerah kost saya sambil meraba-raba apakah tas ransel saya masih tertutup dengan rapi dan tidak tiba-tiba sobek. Maklum, angkutan umum apalagi di saat menjelang dan habis hari raya selalu penuh dengan copet.</div>
<div>Becak saya perintahkan untuk berhenti sebelum waktunya. Belum sampai kost, tetapi saya berhenti di warung angkringan Lik Gembus, yang dari tikungan tadi sudah menembakkan euforia rileks yang luar biasa.</div>
<div><a href="http://baltyra.com/wp-content/uploads/2009/10/crew-cut.jpg"><img title="crew cut" src="http://baltyra.com/wp-content/uploads/2009/10/crew-cut.jpg" alt="crew cut" width="143" height="180" align="left" /></a></div>
<div></div>
<div>Memasuki tenda angkringan saya kaget, Lik Gembus yang biasanya rambut ikalnya agak gondrong sedikit, kali ini saya lihat kok sudah potong cepak, model crew cut, terlihat bersih dan ganteng. ”Lhooo….., Lik!!! Saya kira tadi saya salah masuk mess-nya LA Galaxy, lha kok ada David Beckham di sini. Hahahaha… ” cerocos saya sambil mengulurkan tangan dan memeluk singkat Lik Gembus, tanda ucapan saling memaafkan pasca lebaran.</div>
<div>”Mbak Ceniiilll…., jan saya kira sudah lupa lho sama saya. Lha wong saya sudah jualan sejak seminggu yang lalu tapi panjenengan belum nongol sama sekali. Hehehehe…. lahir batin nggih, Mbak” ucap Lik Gembus sambil membalas pelukan saya dengan agak rikuh. Sementara saya agak mengernyit karena Lik Gembus bau campuran asap arang dan keringat.</div>
<div></div>
<div>Sambil duduk saya comot satu tahu bakso, dua tempe gembus, satu bakwan jagung, dan saya serahkan pada Lik Gembus untuk dibakar. ”Slomot, Lik!” begitu biasanya saya bilang untuk order pembakaran.</div>
<div></div>
<div>”Lik, apa di kampung sampeyan sudah mulai ada pilkada to?” tanya saya sambil memperhatikan rambut Lik Gembus.</div>
<div></div>
<div>”Lho, lha ya belum to Mbak. Lha memangnya kenapa to?” Lik Gembus balik bertanya.</div>
<div></div>
<div>”Itu, rambut sampeyan kok trondhol gitu, kayak orang-orang yang nadar jagonya menang pilkada. Biasanya kan langsung pada cukur cepak atau gundul. Hahahaha….” canda saya.</div>
<div></div>
<div>”Halah, Mbak Cenil ngawur lho. Lha wong kemarin pas saya pulang kampung itu, di desa saya ada acara nonton bareng di pos ronda. Nyetel film Mbak, itu lho film jaman duluuu…. judulnya SPEED, yang main Keanu Mbak, nggantheng tenan, saya kok pengen cukur model begitu. Hehehe…. Piye mbak, saya tambah cakep nggak?” tanya Lik Gembus sambil memperagakan gaya meluncurkan telapak tangannya dari puncak kepala menuju ke jidatnya.</div>
<div></div>
<div>”Weleh, sampeyan ya tahu Keanu Reeves juga to,Lik? Gaul tenan sekarang. “ jawab saya sambil ngakak melihat aksi berkali-kali Lik Gembus meluncurkan tangannya.</div>
<div></div>
<div>Kami terdiam beberapa saat…., Lik Gembus mengulurkan piring kecil yang di atasnya ada pesanan gorengan saya yang sudah dibakar, juga masih dalam diam.</div>
<div></div>
<div>“Anu Mbak…, sebenarnya cukur gundul itu kan juga bisa saja bukan karena merayakan kegembiraan to? Tapi juga bisa untuk mengungkapkan keprihatinan nggih? Seperti orang yang mulai jadi rahib itu?” tiba-tiba Lik Gembus bertanya dengan muka serius.</div>
<div></div>
<div>“Lho, memangnya ada apa to, Lik? Sampeyan baru sedih dan prihatin ya?” tanya saya juga dengan muka serius.</div>
<div></div>
<div>“Saya sebenarnya baru cukur kemarin sore Mbak…. Setelah melihat berita di TV tentang gempa Sumatera. Miris yo, seperti melihat kembali gempa di sini tiga tahun yang lalu. Rasa-rasanya kok bencana ndak ada habis-habisnya ya, Mbak?”  kata Lik Gembus sambil mengulurkan uang kembalian kepada seorang pembeli.</div>
<div></div>
<div>Saya terdiam…., masih merenungi perkataan Lik Gembus, mengeluarkan lagi kepingan-kepingan gambar gempa Sumatera yang kemarin dan tadi pagi saya lihat dari televisi.</div>
<div></div>
<div>“Tapi saya bangga dengan pemerintah kita lho Mbak, lha wong sudah siap segera mengirimkan bantuan dan tim untuk mencari para korban. Terus juga saudara-saudara kita juga segera membuat dompet amal untuk mengumpulkan bantuan bagi para korban gempa ini. Apa hati saya ndak mongkok, bangga rasanya melihat semua saling bahu membahu, membantu saudara sebangsa yang sedang dilanda bencana.” cerocos Lik Gembus dengan mata berbinar yang tepat tertuju pada dua bola mata saya.</div>
<div><a href="http://baltyra.com/wp-content/uploads/2009/10/gempa-padang.jpg"><img title="gempa 3" src="http://baltyra.com/wp-content/uploads/2009/10/gempa-3.jpg" alt="gempa 3" width="463" height="313" /><br />
</a></div>
<div></div>
<div>Saya terdiam…., ucapan Lik Gembus yang sarat dengan nafas nasionalisme terkesan sangat menggebu dan kental menggelitiki pikiran saya.</div>
<div></div>
<div>“Mbak, apa nanti setelah urusan mencari korban ini selesai, pemerintah juga akan memberikan bantuan bagi warga yang kehilangan rumahnya atau rumahnya rusak ya? Seperti yang kayak di sini dulu kan begitu. Kan lumayan bisa meringankan beban mereka,ya Mbak? Tapi saya yakin kok Mbak, pemerintah pasti nanti akan memberikan bantuan buat mereka.”</div>
<div></div>
<div>Saya masih terdiam…., ingatan saya melayang ke masa tiga tahun yang lalu, ketika seorang teman yang biasanya pelit, tiba-tiba mengajak saya dan beberapa teman untuk dia traktir makan pizza.</div>
<div><a href="http://baltyra.com/wp-content/uploads/2009/10/pizza.jpg"><img title="pizza" src="http://baltyra.com/wp-content/uploads/2009/10/pizza.jpg" alt="pizza" width="450" height="395" /></a></div>
<div></div>
<div>Setelah acara makan selesai, saya masih ingat sekali kata-kata yang dia ucapkan, ” Sekedar bagi-bagi rejeki, wong kemarin habis dapat uang bantuan renovasi rumah dari pemerintah, padahal rumah bokap cuma retak sepanjang 60 senti di bagian teras. Ini aja cuma sisanya lho, sebelumnya aku sudah beli printer baru dari uang itu. Hehehehe….” terkesan bangga sekali nada bicaranya. Ucapan teman saya itu mengirimkan senyawa acid yang berlebihan dalam lambung saya, sehingga langsung merasa mual dan ingin muntah. Sepanjang sisa hari itu saya tak menyentuh makanan apa pun.</div>
<div></div>
<div>Saya tak mungkin menceritakan pada Lik Gembus kalau pemerintah masih terkesan setengah-setengah dalam penanganan pasca-bencana, bahkan mendata kerusakan pun tidak mereka lakukan dengan detail dan menyeluruh, sehingga bantuan yang seyogyanya bisa benar-benar tepat sasaran malah disalah-gunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Manusianya pun adalah makhluk yang serakah yang mengerdilkan hati nuraninya demi kepentingan pribadi akan kesenangan semu. Mereka telah kehilangan senyuman hatinya, yang harusnya selalu ditebarkan kepada saudara-saudaranya dan ikut merasakan penderitaan dan kesulitan yang mereka alami. Manusia telah menjadi kaum oportunis yang seperti opor amis. Menjijikkan.</div>
<div></div>
<div>Saya tak mungkin menceritakan pada Lik Gembus, karena hanya segelintir orang saja yang masih mau begitu mempercayai dan mengagungkan pemerintah, membanggakan warganya dengan semangat nasionalisme yang selalu terlihat pada binar mata Lik Gembus. Saya iri sekali, saya menginginkan binar mata Lik Gembus ada pada saya. Saya ingin optimis kalau negara saya bisa menjadi luapan kebanggaan ketika saya bercerita pada anak cucu kelak. Saya ingin bangga menjadi orang Indonesia. Saya ingin tempaan berbagai bencana alam dan terorisme  membuat saya semakin percaya pada pemerintah dan semakin percaya pada solidaritas saudara sebangsa.</div>
<div>Malam itu saya pulang ke kost dalam diam.</div>
<div></div>
<div><em>Cheers, </em></div>
<div><em><br />
</em></div>
<div><em> </em></div>
<div><em>Lby (02/10/09; 11:25)</em></div>
<div><em><br />
</em></div>
<div><strong>Catatan: Turut mengirimkan duka dan keprihatinan yang mendalam bagi saudara-saudaraku di Sumatera, tabahlah…., tabah… dan pasrah.</strong></div>
<div><strong><br />
</strong></div>
<div><em><strong>Foto-foto diambil dari:</strong></em></div>
<div><a href="http://3.bp.blogspot.com/_bQ0SqifjNcg/SoTzKcAfZJI/AAAAAAAACm0/Z3NkqidN9lM/s400/crew-cut-hairstyle.jpg">http://3.bp.blogspot.com/_bQ0SqifjNcg/SoTzKcAfZJI/AAAAAAAACm0/Z3NkqidN9lM/s400/crew-cut-hairstyle.jpg</a></div>
<div><a href="http://www.wartakota.co.id/upload/photo/2009/07/10/bae63886482c324fad0a202e81b1d843.jpg">http://www.wartakota.co.id/upload/photo/2009/07/10/bae63886482c324fad0a202e81b1d843.jpg</a></div>
<div><a href="http://www.eatatfolinos.com/pizza-.jpg">http://www.eatatfolinos.com/pizza-.jpg</a></div>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Disclaimer:</strong></p>
<p>Tokoh-tokoh yang ada dalam tulisan ini hanyalah fiktif belaka. Ide tulisan diambil dari kejadian yang ada di lingkungan sekitar maupun yang ada dalam imajinasi penulis yang diangkat dalam bentuk cerpen sebagai bentuk refleksi sehingga penulis berharap pembaca bisa saling menyentuh hati satu dan yang lain.</p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/lembayungsolo.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/lembayungsolo.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/lembayungsolo.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/lembayungsolo.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/lembayungsolo.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/lembayungsolo.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/lembayungsolo.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/lembayungsolo.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/lembayungsolo.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/lembayungsolo.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/lembayungsolo.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/lembayungsolo.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/lembayungsolo.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/lembayungsolo.wordpress.com/97/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lembayungsolo.wordpress.com&amp;blog=2613609&amp;post=97&amp;subd=lembayungsolo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lembayungsolo.wordpress.com/2009/11/16/potong-crew-cut-untuk-bencana-negeriku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/67d3cab7ec0bf61c4da0ee8e6d3a60fd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">lembayungsolo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://baltyra.com/wp-content/uploads/2009/10/crew-cut.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">crew cut</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://baltyra.com/wp-content/uploads/2009/10/gempa-3.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">gempa 3</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://baltyra.com/wp-content/uploads/2009/10/pizza.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">pizza</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Honda dan Upal</title>
		<link>http://lembayungsolo.wordpress.com/2009/11/16/honda-dan-upal/</link>
		<comments>http://lembayungsolo.wordpress.com/2009/11/16/honda-dan-upal/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Nov 2009 09:52:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lembayungsolo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cenil dan Gembus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lembayungsolo.wordpress.com/?p=94</guid>
		<description><![CDATA[Puasa sudah berjalan tiga minggu. Sudah selama itu pula angkringan Lik Gembus, tempat saya biasa menghabiskan petang hingga tengah malam tidak buka, alias tidak jualan. Saya tidak tahu apa sebabnya karena saya tak melihat atau mendengar pengumuman sebelumnya. Mungkin sudah mulai mudik bersama anak istrinya, begitu pikir saya. Merasakan bulan puasa di kampung pasti sangat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lembayungsolo.wordpress.com&amp;blog=2613609&amp;post=94&amp;subd=lembayungsolo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Puasa sudah berjalan tiga minggu. Sudah selama itu pula angkringan Lik Gembus, tempat saya biasa menghabiskan petang hingga tengah malam tidak buka, alias tidak jualan. Saya tidak tahu apa sebabnya karena saya tak melihat atau mendengar pengumuman sebelumnya. Mungkin sudah mulai mudik bersama anak istrinya, begitu pikir saya. Merasakan bulan puasa di kampung pasti sangat beda rasa dan suasananya daripada di kota yang geliatnya terlalu agresif dan aktif bagi seorang pendatang yang berjiwa <em>sak madya</em> alias secukupnya seperti Lik Gembus ini.</p>
<p>Saya sudah membayangkan dengan bangga akan pilihan Lik Gembus untuk mendahului pulang kampung dan memenangkan puasa di kampung, tanpa menjadi bagian dari para kaum konsumerisme brutal menjelang Lebaran dan bergabung dalam lautan jutaan pemakai jalan yang diberi label “pemudik”.</p>
<p>Siang tadi saya ambil uang di sebuah ATM yang lokasinya berada pada ruas jalan yang terdapat beberapa bank di sana, termasuk bank sirkulasi, yang ketika musim Lebaran selalu penuh sesak orang-orang yang antri untuk menukar uang baru. Iseng saja saya duduk di atas jok motor sambil memandang dari seberang jalan fenomena rutin sekali setahun itu. Antrian sangat panjang tetapi lumayan tertib. Berbagai model orang yang tampak mengantri, dari masyarakat biasa, sampai pedagang jasa penukaran uang baru.</p>
<p>Kepada masyarakat umum, bank sirkulasi ini membuka loket penukaran uang pada hari Senin dan Kamis saja. Bisa dibayangkan bagaimana panjangnya antrian orang yang ingin membagikan uang baru pada sanak keluarga saat Lebaran nanti. Jika tak mau repot, pilihan jatuh pada “membeli” pada para penjual jasa penukaran uang baru. Jelas dikatakan “membeli” dan bukan “menukar” karena memang komisi yang diberikan kepada para penjual jasa ini cukup besar, antara 10-25%. Apakah harga yang ditetapkan sebanding dengan kepanasan, pegal-linu, kepala pusing dan bauran keringat beratus pasang ketiak? Jawabannya tergantung pada seberapa membutuhkannya Anda.</p>
<p>Saya layangkan pandangan di sudut perempatan jalan dekat bank sirkulasi itu. Ada sebuah posko polisi di sana. Tempat biasa yang rutin digunakan setiap tahun menjelang dan selama Lebaran. Baguslah, bisa mengawasi kegiatan tukar-menukar uang ini meski dari kejauhan. Tapi lhooo… kok…..??? Saya tiba-tiba melihat Lik Gembus keluar dari posko polisi itu. Lho??? Segera saya stater motor saya dan berhenti di depan posko itu. “Lik Gembus!!” panggil saya sambil mencablek pundaknya.</p>
<p>“Mbak Cenil?? Aduh Mbak…., <em>pripun niki?</em> Bagaimana ini Mbak? <em>Puuuunnn</em>….. bangkrut tenan saya,Mbak!! Tegaaaa….. <em>jan</em> tegaaaa bener lho priyayi-priyayi itu!!” teriak Lik Gembus yang sarat dengan kekesalan tingkat puncak sambil kemudian duduk di trotoar, muka mendongak melihat saya dengan tatapan memelas.</p>
<p>“Lho? Kok di pos polisi? Jadi selama ini angkringan tutup karena ganti profesi jadi copet ya?” tuduh saya sambil nyengir, berusaha mempengaruhi psikologis Lik Gembus supaya agak tenang. Weee…. lha kok malah tambah ngamuk!!</p>
<p>“<em>Puuunnn</em>…., Mbak Cenil juga ikut-ikutan tidak pro rakyat lagi tooo…?!! Ketularan penyakit pejabat-pejabat kita <em>nggih</em> Mbak, tertawa di atas penderitaan orang lain?” omel Lik Gembus sambil mengurut-urut kakinya yang bersandal jepit warna biru ujung belakangnya sedikit mengintip sisa permen karet yang menempel dengan tenang di sana.</p>
<p>“Elhoo…. kok malah saya yang disalahkan to, Lik? Memangnya sampeyan itu kenapa? Wong bagus-bagus jualan angkringan kok malah ditinggal terus jadi copet?” tanya saya masih sambil senyum-senyum.</p>
<p>Lik Gembus menarik tangan saya, menyuruh saya duduk tanpa melalui kata-kata. “Mbak, sirius <em>niki</em>. Saya mau cerita. Kemaren itu memang saya libur dulu jualan angkringan karena memang pengen mengajak anak istri saya melewati bulan puasa ini di Bayat Mbak, kampung saya. Lha tapi kok malah di-<em>bel </em>dari rumah, dipesanin ini-itu, oleh-oleh ini-itu, uang baru, wahhh….puuunnn…. pokoknya saya jadi <em>sutris</em> Mbakkk…., setresss! Saya ndak jadi pulang to, lha mosok keinginan sanak saudara ndak dipenuhi. Pekewuh, Mbak… sungkan. Makanya saya jadi penjual jasa penukaran uang ini, Mbak… biar bisa beli oleh-oleh untuk orang kampung. Lha uang yang saya dapat selama jualan kemarin itu mau saya tukarkan lagi Mbak, di bank depan itu… Weee….. lha kok….., uangnya palsu, Mbak!! Palsu!!! Tiga lembar ratusan ribu!! Apesss….”</p>
<p>“Lha terus kok sampeyan bisa mecungul keluar dari pos polisi? Gimana ceritanya itu?” tanya saya sambil memperhatikan keringat Lik Gembus yang dleweran dari kening dan pelipisnya.</p>
<p><a href="http://ramadhan.kompas.com/read/xml/2008/09/19/17110423/penukar.uang.jalanan.di.solo.laris.manis"><img class="aligncenter size-medium wp-image-95" title="upal" src="http://lembayungsolo.files.wordpress.com/2009/11/upal.jpg?w=300&#038;h=183" alt="upal" width="300" height="183" /></a>“Lha ya itu Mbak, apesss…. begitu diberi tahu oleh Mbaknya yang di bank itu kalau uang saya ada yang palsu, terus sebentar kemudian saya dijemput pak polisi dan dibawa ke sini untuk diperiksa. Lha wong saya ini korban lho, kok malah diperlakukan seperti tersangka yo? Udah gitu uangnya malah disita dan saya nggak dapat gantinya lho Mbak, <em>piye jal</em>?” keluh Lik Gembus.</p>
<p>“Lha terus sekarang sampeyan mau bagaimana? Masih mau jualan uang lagi?” tanya saya berharap dia kembali menyelesaikan cutinya dan buka angkring lagi.</p>
<p>Lik Gembus diam lama. Cukup lama sehingga saya sempat sandal jepitnya yang dipakai terbalik, entah sudah terbalik dari rumah ketika dia berangkat tadi atau dia sempat melepas sandalnya dan keliru ketika memakainya lagi.</p>
<p>“Anu Mbak, saya kapok saja <em>wis</em>. Saya nggak mau jualan uang lagi. Besok saya tak berusaha nabung saja dari hasil jualan angkringan. Lha anu Mbak, sebenarnya saya itu pengen pulang kampung naik honda baru, Mbak. Ya dari hasil jualan uang ini. Kan keren to Mbak, bisa pulang bawa honda? Masa kalah saingan sama tetangga depan rumah saya di kampung yang profesinya tukang kebon. Lha tapi ndak bisa,Mbak. Malah kena apes saya ini. <em>Pun</em> Mbak, saya tak pulang dulu.” Jawab Lik Gembus sambil berdiri dan berjalan meninggalkan saya.</p>
<p>Saya berteriak memanggilnya, “Jadi besok malam ngangkring to,Lik?!” dan Lik Gembus menoleh sambil tersenyum, “<em>Ndak</em> Mbak, saya mau cari toko honda yang bebek aja,yang murah! Ketemu lagi setelah Lebaran ya Mbak, kosong-kosong lho!!”</p>
<p>Saya tercenung melihatnya membalikkan badan, melihat punggungnya sampai menghilang di tikungan. Lik Gembus…. Orang yang hidupnya selama ini selalu <em>sak madya, </em>secukupnya, ternyata harus menyerah juga dengan euforia mudik dan segala tetek bengek indikator hedonisme yang mengikutinya.</p>
<p>Tak ada yang perlu disalahkan, karena ini fenomena yang sudah menjadi budaya? Atau budaya yang lalu menjadi sebuah fenomena?</p>
<p><em>Cheers,</em></p>
<p><em>Lby (15/09/09; 02:02)</em></p>
<p><strong>Foto-foto diambil dari:</strong></p>
<p><a href="http://putradaerah.wordpress.com/2008/09/12/tukar-uang-di-pinggir-jalan/">http://putradaerah.wordpress.com/2008/09/12/tukar-uang-di-pinggir-jalan/</a></p>
<p><a href="http://ramadhan.kompas.com/read/xml/2008/09/19/17110423/penukar.uang.jalanan.di.solo.laris.manis">http://ramadhan.kompas.com/read/xml/2008/09/19/17110423/penukar.uang.jalanan.di.solo.laris.manis</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Disclaimer:</strong></p>
<p>Tokoh-tokoh yang ada dalam tulisan ini hanyalah fiktif belaka. Ide tulisan diambil dari kejadian yang ada di lingkungan sekitar maupun yang ada dalam imajinasi penulis yang diangkat dalam bentuk cerpen sebagai bentuk refleksi sehingga penulis berharap pembaca bisa saling menyentuh hati satu dan yang lain.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/lembayungsolo.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/lembayungsolo.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/lembayungsolo.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/lembayungsolo.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/lembayungsolo.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/lembayungsolo.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/lembayungsolo.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/lembayungsolo.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/lembayungsolo.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/lembayungsolo.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/lembayungsolo.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/lembayungsolo.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/lembayungsolo.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/lembayungsolo.wordpress.com/94/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lembayungsolo.wordpress.com&amp;blog=2613609&amp;post=94&amp;subd=lembayungsolo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lembayungsolo.wordpress.com/2009/11/16/honda-dan-upal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/67d3cab7ec0bf61c4da0ee8e6d3a60fd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">lembayungsolo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lembayungsolo.files.wordpress.com/2009/11/upal.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">upal</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Banggaku untuk Bintangmu</title>
		<link>http://lembayungsolo.wordpress.com/2009/09/25/banggaku-untuk-bintangmu/</link>
		<comments>http://lembayungsolo.wordpress.com/2009/09/25/banggaku-untuk-bintangmu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Sep 2009 04:57:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lembayungsolo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cenil dan Gembus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lembayungsolo.wordpress.com/2009/09/25/banggaku-untuk-bintangmu/</guid>
		<description><![CDATA[Lembayung – SOLO the spirit of java Yen ing tawang ono lintang…, cah ayuuu…aku ngenteni tekamu…. Terdengar suara langgam jawa dari radio tua Lik Gembus. Sang empunya radio terlihat mat tenan sangat menikmati alunan nada itu sambil terus mengipasi tungku arangnya. Saya pun terbawa suasana syahdu dan hening itu. Kebetulan angkringan malam itu juga sangat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lembayungsolo.wordpress.com&amp;blog=2613609&amp;post=89&amp;subd=lembayungsolo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Lembayung – SOLO the spirit of java</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-91" title="spacer" src="http://lembayungsolo.files.wordpress.com/2009/09/spacer.gif?w=1&#038;h=1" alt="spacer" width="1" height="1" /><img class="aligncenter size-full wp-image-92" title="spacer" src="http://lembayungsolo.files.wordpress.com/2009/09/spacer1.gif?w=1&#038;h=1" alt="spacer" width="1" height="1" /></p>
<p>Yen ing tawang ono lintang…, cah ayuuu…aku ngenteni tekamu….<br />
Terdengar suara langgam jawa dari radio tua Lik Gembus. Sang empunya radio terlihat mat tenan sangat menikmati alunan nada itu sambil terus mengipasi tungku arangnya. Saya pun terbawa suasana syahdu dan hening itu. Kebetulan angkringan malam itu juga sangat sepi. Hanya ada saya dan seorang pembeli yang lain. Kelihatannya dia mahasiswa baru karena dari matanya masih jelas tergambar binar-binar semangat dan harapan.</p>
<p>”Lik, mana traktirannya nih, kemarin kan sudah menang itu lomba tarik tambang di acara tujuh-belasan to? Saya sampai kehabisan suara nyorakin sampeyan jhe!” ucap saya mengganggu keheningan.</p>
<p>Lik Gembus mesam-mesem sambil mulutnya terus bergerak-gerak mengikuti syair lagu langgam jawa itu. Waduh, gawat ini, belum pernah saya dicuekin oleh Lik Gembus seperti ini. Pasti ada yang aneh.</p>
<p>”Lik, sampeyan anget yo? Kok ditanya cuma mesam-mesem terus dari tadi? Jangan-jangan sampeyan itu jatuh cinta lagi ya? Hayooo&#8230; sama siapa??” cerocos saya.</p>
<p>”Heishhh&#8230; Mbak Cenil itu kok ya ada-ada saja. Jatuh cinta opo to. Lha wong saya itu sedang seneng gini lho. Seneng banget, tapi ya jelas bukan karena jatuh cinta. Cinta saya cuma buat ibunya Kenthus seorang. Kembang desa jhe dulu itu…”</p>
<p>“Lha iya to Lik, pasti seneng gara-gara bisa ikut memperkuat squad tarik tambang to? Terus menang to? Seneng to? Iyo to?” tanya saya sambil merebut kipas dari tangan Lik Gembus. Gantian saya yang mengipasi tungku itu, agak cepat, agar apinya membesar karena malam mulai terasa lebih dingin.</p>
<p>”Weeeiiss&#8230;, lha ya jelas saya seneng karena itu to Mbak. Karena sakit pinggang saya sudah beres, sembuh total, jadi saya bisa ikut tim inti tarik tambang, dan menang juara satu. Jan rasanya itu seneeengggg&#8230; banget, terharu, bisa ikut memeriahkan ulang tahun kemerdekaan bangsa kita, Mbak” jawab Lik Gembus.</p>
<p>Saya manthuk-manthuk, salut akan pengejawantahan nilai-nilai nasionalisme ala Lik Gembus. Mata saya sepintas melirik pemuda di seberang saya yang sedang asyik meniupi jahe panas yang masih belum berkurang sejak dipesan tadi. Hm&#8230;, apa mahasiswa baru ini juga punya semangat yang sama dengan Lik Gembus ya?</p>
<p>”Mahasiswa baru ya, Mas?” tegur saya tiba-tiba sehingga membuatnya kaget. Air jahe muncrat sedikit ke hidungnya yang besar dan bulat itu karena tiupan kekagetannya.</p>
<p>”Iya, Mbak. Teknik Industri, baru saja selesai orientasi.”jawabnya sambil menyeka hidungnya dengan punggung tangan.</p>
<p>Pede sekali orang ini. Padahal saya hanya menanyakan kalau apakah dia mahasiswa baru tapi ternyata malah melengkapinya dengan data jurusan. Mungkin masih tersisa euforia kebanggaan bisa diterima di universitas negeri ini. Itu bagus, semangat yang meluap, mengarah pada tuntutan idealisme, sangat khas anak muda. Saya biarkan saja dia terus melanjutkan aktivitasnya, meniupi jahe panasnya.</p>
<p>”Lik, wis, ndak usah mesam-mesem terus gitu to, saya kok jadi merasa aneh melihatnya. ” protes saya ketika saya melihat Lik Gembus masih mesam-mesem sambil melihat ke langit yang pekat tapi bertabur bintang-bintang terang.</p>
<p>”Pun panjenengan, makan dan minum situ sepuasnya Mbak. Mas, kamu juga, makan minum sepuasnya. Malam ini semua gratis,tis,tis&#8230;.” jawab Lik Gembus tanpa memalingkan wajahnya dari langit pekat berbintang itu.</p>
<p>”Elho, ada apa ini? Apa ini hari terakhir sampeyan jualan angringan to Lik? Selama ini selalu merugi ya? Perasaan saya nggak pernah ngutang lho. Selalu bayar jreng. Kenapa Lik? Apa mau banting setir jadi tukang pijit biar bisa pegang-pegang badan orang? Hahaha&#8230; Ono opo to,Lik?” tanya saya keheranan dengan pernyataan dia tadi.</p>
<p>”Hush Mbak Cenil ini ada-ada saja. Ndak, saya ndak berhenti jadi tukang jualan angkringan kok. Saya cuma mau merayakan saja, berbagi perasaan senang saya sama panjenengan-panjengan ini. Itu lho mbak, panjengan kan tahu kalau kemarin itu saya menang lomba tarik tambang to? Nah, itu rasanya saya kan seneeenggg&#8230;. banget Mbak,Mas&#8230;, bangga tenan. Ning, tapi, perasaan itu ternyata ndak ada apa-apanya ketika melihat anak lanang saya, si Kenthus, pulang dari upacara tujuhbelasan di sekolahnya sambil membawa piala besar. Piala,Mbak. Si Kenthus juara satu lomba cerdas tangkas mengenal pahlawan nasional. Wah jan Mbakkk&#8230;, itu rasanya kok ya mongkok ati saya. Lebih dari sekedar senang dan bangga, tapi juga terharu. Punnnn&#8230;, ndak bisa dilukiskan dengan kata-kata, Mbak. Rasanya saya mau saja jualan angkring 24 jam tanpa tidur supaya bisa menyekolahkan si Kenthus dan melihat thole itu selalu membawa piala-piala yang lain ke rumah&#8230; Kenthus itu baru kelas dua SD Mbak, dan itu piala dia yang pertama. Saya kan tidak berlebihan to Mbak, kalo mengharap Kenthus akan menjadi anak yang pinter dan berprestasi? Rajin membawa piala dan piagam penghargaan? Meskipun bapaknya cuma pedangan angkringan&#8230; tapi bapak kere ini lak yo boleh berharap to, Mbak?” tanya Lik Gembus kepada saya.</p>
<p>Saya terdiam. Diam beberapa saat mencoba menelaah satu persatu kalimat yang runtut dan sarat emosi itu. Kebanggaan orang tua berada pada pundak anak-anaknya. Konsep standar yang seharusnya dari dulu saya pahami. Tapi nyatanya tidak sama sekali. Selama ini saya hanya merasa bahwa saya bertanggung jawab pada diri saya sendiri. Well, khas egoisme darah muda. Tak pernah terlintas bahwa jika saya berhasil, maka orang tua saya akan lebih bahagia daripada kadar kebahagiaan saya sendiri. Dan jika saya gagal, maka kegagalan itu akan terasa jauh lebih pahit bagi orang tua saya.  Maklum, saya belum pernah jadi orang tua, jadi konsep seperti ini masih sering terlupa dan terpinggirkan disela ego-ego saya.</p>
<p>”Makanya Mas, jadi mahasiswa yang rajin ya, jangan cuma runtang-runtung ikut demo sana-sini tanpa tahu jelas apa dan siapa yang dibela. Jangan gara-gara ikut demo pula jadi ndak pernah masuk kuliah, nilai jeblok, dan kehilangan motivasi akademis. Hahaha&#8230; nasehat dari senior nih&#8230; wajib kamu dengerin” kata saya pada mahasiwa baru itu. Yang saya ajak bicara cuma manggut-manggut sambil mulut penuhnya terus mengunyah nasi kucing entah sudah bungkus yang keberapa, sambil sesekali meniupi jahe panasnya yang bagi saya masih terlihat belum berkurang sedikit pun. Saya jadi tersenyum, geli dengan diri saya sendiri. Nasihat senior untuk juniornya? Argghh&#8230; itu sih sebenarnya protes untuk diri pribadi.</p>
<p>”Lik, ya jelas setiap orang berhak punya mimpi dan harapan. Kalau sudah tidak punya harapan dan motivasi ya namanya sudah tidak hidup lagi. Sudah mati itu. Tapi apa ya anak sampeyan tahu kalau sampeyan itu bangga sekali dengan prestasinya? Karena kalau tidak, bisa saja dia tidak termotivasi untuk lebih maju lagi. Apakah dia juga punya pikiran bahwa dia akan punya kesempatan untuk terus mengejar cita-citanya, mimpinya, bahkan jika itu setinggi bintang-bintang di langit sekali pun? Ataukah dia merasa bahwa prestasinya hanya sebatas ruang pandang matanya saja?” kata saya dengan tempo sangat pelan, seakan-akan saya juga sedang mengatakannya untuk diri saya sendiri. Refleksi&#8230;</p>
<p>Lik Gembus tersenyum, bersahaja tapi penuh semangat. ”Saya yakin Mbak, anak saya pasti bisa meraih cita-citanya, setinggi apa pun itu. Dan yang lebih saya yakini, bahwa saya pasti bisa menghantarkan anak saya ke sana.”</p>
<p>Keyakinan Lik Gembus, semangat dan harapannya membuat saya malu. Saya mendongak, mencari cercah sinar bintang. Diiring sayup langgang jawa yang saya tidak tahu judulnya, hanya sepintas terdengar syair ”aduh-aduh biyung”  saya terngiang suara ibu saya,</p>
<p>”Sekolah yang bener yo,Ndhuk&#8230;”</p>
<p>Lby (19/08/09; 14:31)</p>
<p>Foto diambil dari:</p>
<p>http://media.photobucket.com/image/trophy/shadowrza/2F4527354EB9C696D56325734FA32F7369A.png?o=8</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/lembayungsolo.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/lembayungsolo.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/lembayungsolo.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/lembayungsolo.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/lembayungsolo.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/lembayungsolo.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/lembayungsolo.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/lembayungsolo.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/lembayungsolo.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/lembayungsolo.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/lembayungsolo.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/lembayungsolo.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/lembayungsolo.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/lembayungsolo.wordpress.com/89/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lembayungsolo.wordpress.com&amp;blog=2613609&amp;post=89&amp;subd=lembayungsolo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lembayungsolo.wordpress.com/2009/09/25/banggaku-untuk-bintangmu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/67d3cab7ec0bf61c4da0ee8e6d3a60fd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">lembayungsolo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lembayungsolo.files.wordpress.com/2009/09/spacer.gif" medium="image">
			<media:title type="html">spacer</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://lembayungsolo.files.wordpress.com/2009/09/spacer1.gif" medium="image">
			<media:title type="html">spacer</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dugem Vs Tarik Tambang</title>
		<link>http://lembayungsolo.wordpress.com/2009/08/14/dugem-vs-tarik-tambang/</link>
		<comments>http://lembayungsolo.wordpress.com/2009/08/14/dugem-vs-tarik-tambang/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Aug 2009 05:28:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lembayungsolo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cenil dan Gembus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lembayungsolo.wordpress.com/?p=87</guid>
		<description><![CDATA[            Sambil mengendarai motor, saya lirik jam tangan yang melingkar pada pergelangan tangan kanan saya. Hm&#8230; sudah jam 23:05.  Lumayan larut untuk mencari warung makan. Pilihan terakhir yang bisa saya andalkan jelas adalah angkringan Lik Gembus yang pasti jam segini sedang ramai-ramainya. Benar saja, dari kejauhan sudah saya lihat bergundul-gundul kepala bergerak-gerak maju mundur, tidak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lembayungsolo.wordpress.com&amp;blog=2613609&amp;post=87&amp;subd=lembayungsolo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>            Sambil mengendarai motor, saya lirik jam tangan yang melingkar pada pergelangan tangan kanan saya. Hm&#8230; sudah jam 23:05.  Lumayan larut untuk mencari warung makan. Pilihan terakhir yang bisa saya andalkan jelas adalah angkringan Lik Gembus yang pasti jam segini sedang ramai-ramainya. Benar saja, dari kejauhan sudah saya lihat ber<em>gundul-gundul</em> kepala bergerak-gerak maju mundur, tidak serentak <em>sih</em>, tapi hampir semua kepala itu bergerak. Ciri-ciri kalau di angkringan itu sedang ada obrolan yang <em>gayeng</em> sehingga semua bisa tertawa terbahak-bahak berbarengan.</p>
<p> </p>
<p>            Perlahan saya parkir motor tepat di samping angkringan itu. Celingak-celinguk mencari tempat duduk yang kosong.</p>
<p>”Lho, Mbak Cenil, sendirian?” sapa Lik Gembus hangat seperti biasa.</p>
<p> </p>
<p>”Lha ya iya tho Lik, sendirian, memangnya saya mau ngajak siapa? Wong masih joker gini lho&#8230;. Jomblo Kerennn!! Hahaha&#8230;” jawab saya sambil menjejalkan pantat tepat di tengah-tengah dua orang bapak-bapak paruh-baya yang menggerutu melihat kelakuan saya.</p>
<p> </p>
<p>”Mbak Cenil ini kaya pantatnya kecil aja lho&#8230;. sempit ini!!!” protes Pak Kliwon, yang duduk di sebelah kiri saya. Saya cuma nyengir lebar sambil membenturkan bahu kiri saya tepat di bahu kanan Pak Kliwon.</p>
<p> </p>
<p>            ”<em>Saking pundi </em>tho Mbak, kok jam segini baru pulang?” tanya Lik Gembus sambil membuatkan teh tawar panas pesanan saya. Saya tersenyum memikirkan Lik Gembus mengatakan ”pulang”&#8230; padahal saya belum pulang ke kost-an&#8230; Jelas Lik Gembus beranggapan bahwa angkringannya ini adalah rumah kost saya, meski saya belum pernah menunggui Lik Gembus sampai menutup angkringnya.  Saya kok merasa terharu, dia beranggapan demikian.</p>
<p> </p>
<p>”Saya habis dari <em>club</em>, Lik. Ada teman saya ulang tahun.” jawab saya sambil mengambil sebungkus nasi <em>prithilan</em> bandeng (karena memang ikan bandengnya lebih kecil daripada kelingking bayi umur 1 bulan). Baru sadar ternyata perut saya terasa perih karena sedari sore tadi hanya terisi sepiring kecil kacang bawang, satu biji croissant, dan segelas kecil Gin Tonic.</p>
<p> </p>
<p>”Club itu kalau dulu sebutannya diskotik,Lik. Sekarang disebutnya kelap. Tulisannya C L U B ” imbuh saya setelah melihat reaksinya yang menaikkan dua buah alisnya. ”Teman saya ulang tahun, jadi saya ditraktir ke sana. Sebenarnya acaranya belum selesai <em>sih</em>  tapi saya pamit duluan. Pusing kepala saya dengar musik jedak-jeduk-jedak-jeduk, dan lampu warna-warni berputar-putar di seluruh ruangan. Lagipula saya wong <em>ndeso</em>, kalau belum ketemu nasi kok rasanya belum makan. Hahaha&#8230;.”</p>
<p> </p>
<p>”Lha <em>jebul</em> ada acara ulang tahunan <em>to</em>, makanya ndak bisa datang rapat karang taruna <em>nggih</em>?” tanya Lik Gembus tanpa bermaksud menyindir saya. Nadanya memang murni hanya sekedar bertanya.</p>
<p> </p>
<p><em>Asem ik, </em>saya kok merasa tertampar dengan pertanyaan tanpa maksud terselubung itu. Saya sebenarnya tidak lupa kalau sore ini jam 19:00 ada rapat karang taruna untuk membahas tentang acara malam tirakatan memperingati hari kemerdekaan. Tapi jelas, tanpa berpikir dua kali saya memilih ke pesta ultah teman saya, meski pada akhirnya saya malah tak bisa menikmatinya. Maunya jadi anak gaul, eeehh&#8230;. apa daya, sekali <em>ndeso</em> tetap <em>ndeso</em>.</p>
<p> </p>
<p>Saya berpura-pura menikmati nasi <em>prithilan </em>bandeng itu, karena tak tahu harus merespon bagaimana pertanyaan Lik Gembus tadi.  Sambil sesekali mata saya melirik Lik Gembus yang sedang melayani pembeli yang lain. Tiba-tiba saya melihat ada yang aneh dengan gerak-gerik Lik Gembus. Seperti tidak biasanya. Berulang kali saya lihat Lik Gembus memegang pinggangnya sebelah kanan sambil nyengir seperti menahan sakit.</p>
<p> </p>
<p>”Lho, pinggang <em>sampeyan</em> kenapa,Lik?” tanya saya sambil terus meneliti gerak-geriknya.</p>
<p> </p>
<p>”<em>Lha</em> ya itu Mbak, <em>panjenengan</em> tahu dukun urut yang <em>cengpleng</em> <em>ndak</em>? Kemaren lusa waktu saya mengangkat ember air kok sepertinya jadi salah urat. Sudah saya bawa ke dukun urut kampung sebelah itu tapi kok ya masih sakit, belum fit seratus prosen <em>jhe</em>&#8230; gimana ya ini?” jawabnya sambil menyingkapkan kaos biru dongker yang biru-nya (atau dongker-nya?) sudah memudar itu. Terlihat lilitan setagen warna hijau <em>kluwuk</em>.  Asumsi saya pasti pinjam kepunyaan istrinya. Spontan saya tertawa ngakak melihat Lik Gembus memakai setagen sambil memutarkan tubuhnya bak peragawan.</p>
<p> </p>
<p>Sekarang gantian Lik Gembus yang cemberut yang ekpresi wajahnya berubah-ubah dari <em>mangkel </em>– memelas – <em>mangkel </em>- memelas&#8230;. seperti menyumpahi saya kalau saja saya juga sakit pinggang seperti yang sekarang dia rasakan ini.</p>
<p> </p>
<p>”<em>Puuunnn&#8230;. jan panjenengan </em> itu sama saja kayak yang lainnya ini lho Mbak Cenil&#8230; Dari tadi semua pada nggodain saya gara-gara saya pakai setagen seperti ini. Katanya gara-gara setagennya saya pinjam, istri saya malah <em>klekaran </em>tiduran di kamar terus karena nggak bisa pakai <em>jarik</em>. Harusnya saya nggak jualan tapi nemanin istri saya, gitu kata mereka ini. Memangnya kalau nemani istri saya ya mau ngapain Mbak, lha wong pinggang ini nggak bisa diajak <em>hot </em> gitu lho&#8230;.” protes Lik Gembus dengan mulut mewek menahan sebal.</p>
<p> </p>
<p>Sekali lagi saya tidak bisa menahan ketawa saya, apalagi ketika saya tahu bahwa bahan obrolan yang <em>gayeng</em> ketika saya lihat dari atas sepeda motor saya tadi adalah soal setagen Lik Gembus.</p>
<p> </p>
<p>“Saya nggak tahu tukang urut yang bagus,Lik. <em>Wong </em> saya tidak pernah pijit-urut kok. Takut kecanduan. Lho, memangnya ada apa tho Lik, kok buru-buru pengen cepat sembuh? Sudah kebelet anu ya&#8230;.” tanya saya cekikikan tanpa menyelesaikan kalimat saya. Cekikikan saya langsung dibarengi dengan cekakakan Pak Kliwon dan beberapa pembeli angkringan itu. ”Iyo itu Mbak Ceniiillll&#8230;., sudah nggak tahannnnn&#8230; arrrgghhh&#8230;.” Pak Kliwon menambahkan sambil tertawa lebih keras lagi. Bahunya naik-turun dengan cepat, kepalanya maju-mundur dengan gerakan ritmis.</p>
<p>”Hush&#8230;., kalian semua itu <em>seneng</em> yak kalo saya menderita. Wis jan tenan! (lalu matanya melihat ke saya) Anu Mbak, bukan begitu. Saya mau cepat sembuh karena minggu depan itu kan ada pertandingan tarik tambang dalam rangka tujuh-belasan. Saya setiap tahun kan pasti jadi tim inti, Mbak. Lha kalau sakit begini apa ya nanti saya bisa main?” jawab Lik Gembus sambil menatap saya dengan memelas.</p>
<p> </p>
<p>”Lha yo ndak usah ikut dulu Lik, biar diganti yang lain saja tho. Lagipula kan memang belum sembuh tho? Jangan memaksakan diri. Wong cuma lomba tarik tambang saja kok.” saran saya sambil minta dibuatkan lagi teh tawar panas gelas kedua.</p>
<p> </p>
<p>”Weh&#8230;, ya ndak bisa gitu tho Mbak. Ini lomba lho!! Dalam rangka memperingati tujuh-belas Agustus! Hari kemerdekaan bangsa kita,Mbak!! Mosok ya kita menyerah berpartisipasi hanya karena <em>lara boyok</em>? Sakit pinggang? Waaaahh&#8230;.. <em>ngisin-isini </em>Mbak, memalukannnnn&#8230;.. Saya yakin kok, Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol, Pattimura, Bung Tomo itu dulu juga pernah mengalami sakit pinggang. Tapi apa ya mereka <em>njur</em> cuti dulu berjuangnya gara-gara sakit pinggang? Kan <em>nggih mboten tho</em>? Nggak kan Mbak? Makanya, saya harus cari dukun urut yang <em>jos gandhos top markotop </em>untuk menyembuhkan saya! Pesta kemerdekaan lho Mbak, <em>mosok </em>ya <em>ndak </em>ikut merayakan?!”</p>
<p> </p>
<p>Plakkkk&#8230;.. sekali lagi saya ditampar. Kali ini lebih keras. Saya, yang notabene mahasiswa, generasi harapan bangsa, ujung tombak pergerakan demokrasi, yang harusnya menjadi pribadi-pribadi yang kritis, idealis dan nasionalis, memilih pergi ke pesta ulang tahun, jingkrak-jingkrak dugem (meski akhirnya pusing sendiri), daripada datang rapat karang taruna dimana bisa dipastikan sumbang saran saya akan menjadi masukan yang berguna demi pelaksanaan malam tirakatan perayaan pesta kemerdekaan bangsa kita.  Di lain sisi, Lik Gembus blingsatan, kebingungan, dan sedih membayangkan tidak akan bisa mengikuti lomba tarik tambang hanya gara-gara sakit pinggang. Kalut gara-gara tidak bisa ikut menyumbangkan apa yang dia punya untuk merayakan pesta kemerdekaan bangsa. Lik Gembus berupaya keras mencari cara agar sakit pinggangnya bisa diatasi dan dia bisa berlaga pada medan tarik tambang. Hm&#8230; dua pesta yang berbeda&#8230; dan saya memilih pesta yang salah.</p>
<p> </p>
<p>”Lik, ini namanya arak gosok. Oleskan saja di pinggangmu. Panas <em>buanget</em>, tapi ini manjur. Semoga cepat sembuh ya, pokoknya besok saya jadi suporter <em>sampeyan</em>!”  kata saya sambil menyerahkan sebotol kecil arak gosok persediaan saya di kost, setelah saya sempat lari ke kost sebentar untuk mengambilkannya.</p>
<p> </p>
<p>”Suporter untuk pertandingan yang mana ini, Mbak Cenil? Yang di lapangan apa yang di kamar? Wahahahaha&#8230;. ” Pak Kliwon menyahut sambil mengeluarkan beberapa lembar uang ribuan, pertanda dia akan segera pulang.</p>
<p> </p>
<p>Saya cuma nyengir sambil mengedipkan sebelah mata.</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p>Cheers,</p>
<p> </p>
<p>Lby (10/08/09;14:45)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/lembayungsolo.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/lembayungsolo.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/lembayungsolo.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/lembayungsolo.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/lembayungsolo.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/lembayungsolo.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/lembayungsolo.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/lembayungsolo.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/lembayungsolo.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/lembayungsolo.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/lembayungsolo.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/lembayungsolo.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/lembayungsolo.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/lembayungsolo.wordpress.com/87/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lembayungsolo.wordpress.com&amp;blog=2613609&amp;post=87&amp;subd=lembayungsolo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lembayungsolo.wordpress.com/2009/08/14/dugem-vs-tarik-tambang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/67d3cab7ec0bf61c4da0ee8e6d3a60fd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">lembayungsolo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tempe Gembus, Lik Gembus, dan Berita Saru</title>
		<link>http://lembayungsolo.wordpress.com/2009/08/06/tempe-gembus-lik-gembus-dan-berita-saru/</link>
		<comments>http://lembayungsolo.wordpress.com/2009/08/06/tempe-gembus-lik-gembus-dan-berita-saru/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Aug 2009 04:21:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lembayungsolo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cenil dan Gembus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lembayungsolo.wordpress.com/?p=85</guid>
		<description><![CDATA[ “Wah…, tumben Mbak Cenil jam segini sudah nongol!!!” sapa Lik Gembus, pemilik angkringan di dekat kost-an saya. Memang sore ini kadingaren, alias di luar kebiasaan karena baru saja terdengar adzan maghrib tapi saya sudah nongkrong di sana. ”Iyo Lik, lagi bete ini, anak kost pergi semua, daripada ngelamun jorok lak yo mending nongkrong di sini [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lembayungsolo.wordpress.com&amp;blog=2613609&amp;post=85&amp;subd=lembayungsolo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> “Wah…, tumben Mbak Cenil jam segini sudah nongol!!!” sapa Lik Gembus, pemilik angkringan di dekat kost-an saya. Memang sore ini kadingaren, alias di luar kebiasaan karena baru saja terdengar adzan maghrib tapi saya sudah nongkrong di sana.</p>
<p>”Iyo Lik, lagi bete ini, anak kost pergi semua, daripada ngelamun jorok lak yo mending nongkrong di sini to&#8230;, ada temannya.” jawab saya sambil memperhatikan Lik Gembus yang sedang membuat api arang.</p>
<p>”Halah, opo yo priyayi puteri itu suka ngelamun jorok to Mbak? Biasanya yang suka jorok-jorok itu kan laki-laki, nggih?” tanya Lik Gembus. Wah&#8230;, ini dia&#8230;., barangkali masih penganut paham perempuan itu harus yang baik-baik, pandangan berbau konservatif, dengan tingkat diskriminasi terselubung yang tinggi.</p>
<p>”Lho, lha ya perempuan sama laki-laki itu opo bedanya Lik? Wong ya sama-sama punya mata buat bisa lihat yang cantik dan ganteng, lihat betis indah, lihat perut sixpack, lihat dada penuh, dan juga lihat dada bidang? Sama-sama punya pikiran yang bisa membayangkan sedang jalan digandeng cowok nggantheng, membayangkan dicium cewek yang cantiknya seperti Dian Sastro? Huayooo&#8230;. rak yo sami mawon to? Sama saja?” cerocos saya sambil memilih-milih tempe gembus goreng yang tipis-tipis.</p>
<p>Sambil menunggu jawabannya, saya letakkan dua tempe gembus goreng itu di atas planggrangan untuk dibakar di atas arang. Saya lihat Lik Gembus masih sibuk menata gelas dan piring kecil di pojok gerobak angkringnya. Saya tidak sabar menunggu jawabannya yang selalu ngeyel itu. Ngeyelnya itu selalu membuat saya kangen, karena meskipun ngeyel, Lik Gembus tidak pernah hanya sekedar ngeyel.</p>
<p>”Lha iya to Mbak Cenil, memang perempuan dan laki-laki itu sama-sama punya perasaan, pikiran, mata, telinga, hidung, kepala, pundak, lutut-kaki-lutut-kaki, lha tapi kan yang namanya perempuan itu kan ya tetap perempuan, nantinya akan jadi sosok ibu, yang akan menjadi suri tauladan bagi anak-anaknya. Ibu adalah sosok perempuan yang halus, kuat, dan sekaligus suci. Ya nggak pantes ah kalo perempuan itu suka ngelamun yang jorok-jorok. Saru!” jawab Lik Gembus menghitung nasi bungkus yang baru saja dikeluarkannya dari tas kresek hitam besar.</p>
<p>Wah&#8230;ini&#8230;., ini dia kalau sudah keluar statement ”yang namanya perempuan ya tetap perempuan&#8230;” susah ini&#8230;. membatasi kaum saya untuk maju. Pikiran saya menerawang jauh melintasi kepul api arang yang membakar tempe gembus saya&#8230; baru-baru ini saya sebenarnya juga prihatin dengan perkembangan teknologi informasi terutama yang berhubungan dengan media yang semakin menyajikan kevulgaran erotisme, terutama pada media online yang notabene lebih banyak diakses oleh orang-orang yang berpendidikan, yang sebenarnya mereka bisa memilih dengan bijak berita-berita apa yang akan diakses.</p>
<p>Di Indonesia, internet hanya masih merupakan milik strata tertentu saja, dan orang-orang seperti Lik Gembus, tukang-tukang becak, dan gerombolan kaum proletar tidak pernah tahu dan bersentuhan dengan yang namanya teknologi internet. Kalau saja Lik Gembus tahu bahwa erotisme online lebih heboh lagi, bisa jadi dia tambah geleng-geleng kepala (atau malah minta diajari akses internet?). Saya jadi ingat juga dengan sebuah media yang menampung berbagai artikel dari berbagai penulis yang sarat dengan informasi, bukan website khusus seks. Apa pun bentuk artikel itu, saya tetap menganggapnya sebagai sumber informasi yang bisa membuka wacana saya dalam berbagai hal.</p>
<p>Ada yang unik yang berkaitan dengan debat saya dengan Lik Gembus tadi, bahwa ada artikel yang selalu berinfokan tentang kevulgaran erotisme yang selalu banyak diklik oleh pembaca, dan ternyata penulisnya adalah seorang perempuan. Nah lho Lik, ternyata perempuan itu kok ya berbakat berimajinasi. Hebat berfantasi. Mungkin dalam bahasanya Lik Gembus itu mikir yang saru-saru kali ya. Tulisannya memang sarat informasi, banyak sekali yang bisa didapat dari artikel itu. Dengan penyajian yang menarik, sedikit nyerempet-nyerempet, akan sangat asyik dibaca, membangun dunia kita sendiri. Mungkin suatu saat nanti artikel itu perlu saya print untuk saya tunjukkan kepada Lik Gembus. Lha tapi apa ya dia itu mengenal dildo, vagina getar, dan kondom bergerigi? Apa dia juga tidak pingsan kalau tahu yang menulisnya adalah seorang perempuan?</p>
<p>”Lho, Mbak&#8230;. kok malah ngalamun to? Jangan-jangan mikir saru ya?” tegur Lik Gembus sambil menyajikan wedang jahe gepuk pesanan saya. Saya tersentak kaget.</p>
<p> “Hush, Lik Gembus nih lho…, ngawur aja. Anu Lik, saya mau cerita kalau ada seorang penulis yang spesialis nulis artikel esek-esek, tapi penulisnya itu perempuan lho Lik. Tulisannya juga bagus, informatif dan menghibur. Pembacanya juga buanyak. Mau ndak saya kasih artikelnya?”</p>
<p>“Weeeehhh….??!!!! Lha masak sing nulis begituan itu priyayi puteri to Mbak? Tenane??!!” sahut Lik Gembus tidak percaya. “Lho, kalau yang nulis perempuan memangnya kenapa,Lik? Wong yang punya hasrat seks itu ndak cuma laki-laki lho. Istri sampeyan kan ya bergairah to sama sampeyan? Mosok cuma sampeyan tok yang nyeruduk lho!! Menulis juga sama saja, laki-laki, perempuan, punya kesempatan dan hak yang sama.” kali ini saya kok lebih ngeyel daripada dia.</p>
<p>”Waaa&#8230;, wis jan repot tenan iki. Sekarang saya tanya sama Mbak Cenil. Apa ya Mbak itu suka baca tulisan esek-esek? Hobi gitu? Lha wong koran-koran mesum aja sering digropyok satpol-pp lho Mbak. Nanti kalo Mbak Cenil ketahuan suka baca begituan juga ikut digropyok!” tandas Lik Gembus. ”Hush Lik, ngawur wae. Saya memang sesekali baca artikel begituan, tapi tetap pilih-pilih Lik, cari yang ada informasinya, bukan yang mengumbar kevulgaran erotisme semata. Lagipula baca begituan lama-lama bikin saya mblenger,Lik. Lha piye, wong saya belum menikah jhe. Kalau saya kepengin lha saya mau sama siapa. Hahahaha&#8230;.” jawab saya sambil menyeruput wedang jahe yang masih kepul-kepul uap panasnya.</p>
<p>”Puuun&#8230;..wis, nggak usah dibahas lagi Mbak Cenil, saya kok malah malu sendiri ngomongin begituan sama Mbak lho&#8230; sementara sampeyan malah ngomong terus cas cis cus tanpa rikuh risih. Sampeyan itu perempuan lho Mbak&#8230;.., perempuan itu harus halus budi pekertinya, trengginas, tapi tetap santun. Lak yo begitu itu priyanyi jowo. Kalau memang apa itu net-net itu banyak berita saru-sarunya ya baca seperlunya saja, kalau tidak perlu ya mendingan baca yang lain, baca resep masakan misalnya, kan itu lebih keibuan, sesuai kodrat perempuan. Bagus buat sampeyan. Lak nggih to?” begitu nasehat Lik Gembus.</p>
<p>Saya merenungkan kata-katanya, yang malah membawa saya pada iklim komparasi, membandingkan antara perempuan jawa dan perempuan global, perempuan konservatif dan modern, perempuan konco wingking dan perempuan berpendidikan. Tetapi yang terngiang-ngiang di kepala saya kok malah kata-kata Lik Gembus, “yang namanya perempuan ya tetap perempuan&#8230;”</p>
<p>Segera saya bayar dua tempe gembus goreng dan satu gelas wedang jahe, lalu pamitan pada Lik Gembus. “Lho, tumben tergesa-gesa Mbak, apa mau ada acara?” tanya Lik Gembus sambil memberikan uang kembalian saya. “Yo Lik, mau buru-buru ke toko buku, beli kumpulan resep makanan. Wis yooo…”</p>
<p> </p>
<p>Cheers, Lby (31/07/09;09:42)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/lembayungsolo.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/lembayungsolo.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/lembayungsolo.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/lembayungsolo.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/lembayungsolo.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/lembayungsolo.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/lembayungsolo.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/lembayungsolo.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/lembayungsolo.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/lembayungsolo.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/lembayungsolo.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/lembayungsolo.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/lembayungsolo.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/lembayungsolo.wordpress.com/85/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lembayungsolo.wordpress.com&amp;blog=2613609&amp;post=85&amp;subd=lembayungsolo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lembayungsolo.wordpress.com/2009/08/06/tempe-gembus-lik-gembus-dan-berita-saru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/67d3cab7ec0bf61c4da0ee8e6d3a60fd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">lembayungsolo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Saya Gila, Kamu Waras: So what geto lohh!!</title>
		<link>http://lembayungsolo.wordpress.com/2009/07/22/saya-gila-kamu-waras-so-what-geto-lohh/</link>
		<comments>http://lembayungsolo.wordpress.com/2009/07/22/saya-gila-kamu-waras-so-what-geto-lohh/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Jul 2009 04:05:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lembayungsolo</dc:creator>
				<category><![CDATA[articles]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lembayungsolo.wordpress.com/?p=82</guid>
		<description><![CDATA[Guys,  kamu pasti tahu, kalau kamu dihasilkan dari perbedaan. Dilahirkan dari hasil persetubuhan dua kelamin yang berbeda, dilahirkan dari  hasil percumbuan dua lubang yang besarnya berbeda, dan dilahirkan dalam perbedaan suhu bunda dan ruang bersalin. Kamu dibesarkan dengan menu makan yang tidak melulu sejenis, bubur beras merah lagi dan lagi. Ada kalanya bundamu menyelingi makanmu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lembayungsolo.wordpress.com&amp;blog=2613609&amp;post=82&amp;subd=lembayungsolo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Guys,  kamu pasti tahu, kalau kamu dihasilkan dari perbedaan. Dilahirkan dari hasil persetubuhan dua kelamin yang berbeda, dilahirkan dari  hasil percumbuan dua lubang yang besarnya berbeda, dan dilahirkan dalam perbedaan suhu bunda dan ruang bersalin. Kamu dibesarkan dengan menu makan yang tidak melulu sejenis, bubur beras merah lagi dan lagi. Ada kalanya bundamu menyelingi makanmu dengan bubur kacang hijau, bubur rasa pisang, atau apel. Karena meskipun masih batita dan belum bisa berdemonstrasi menolak kebijakan politik keluarga, toh kamu sudah bisa menyuarakan ketidak-sukaanmu pada jenis makanan yang disuapkan ke mulutmu. Berbagai reaksi akan dapat terbaca oleh orang tuamu, mulai dari tidak mau makan, muntah, atau berak-berak cair (untuk mengganti menyebut kata ***cret), sehingga orang tuamu yang baik akan bisa menangkap maksudmu. Sebenarnya, sadar atau tidak sadar, kita sudah terbiasa (atau setidaknya dibiasakan) untuk hidup dalam perbedaan sejak kita diciptakan. Seiring berjalannya waktu kita akan semakin dihadapkan pada dunia nyata yang penuh dengan jutaan indikator kehidupan yang berdimensi pada perbedaan.</p>
<p>But, alias tetapi, alias <em>ning</em>, mengapa ketika kita beranjak dewasa dan mulai bisa menggunakan kedua bagian otak kiri dan kanan tidak malah membuat kita bijaksana dalam menyikapi perbedaan? (sengaja dibuat satu paragraf untuk satu kalimat saja supaya bisa agak direnungkan&#8230;)</p>
<p>Contoh kasus adalah soal kebebasan penyaluran aspirasi politik kita. Simbok saya adalah fans berat capres Joko Cengir, sedangkan bulik saya penganut setia capres Joni Cupu. So, mereka berdua mencontreng dua capres yang berbeda. Meski dalam rumah simbok saya mencerca habis-habisan capres Joni Cupu, tetapi ketika simbok dan bulik bertemu, mereka tetap asyik masyuk tukar cerita tentang aneka kue dan batik. Ranah pilihan capres tidak mereka singgung sama sekali, karena sudah tahu sama tahu dan saling mahfum atas pilihan dan pandangan masing-masing. Meskipun untuk tingkatan kaum intelektual, biasanya perbedaan ini justru akan dibahas, dijadikan bahan diskusi, untuk saling mengupas kedua sisi perbedaan ini secara menyeluruh tanpa bermaksud pemaksaan pengaruh satu kepada yang lain. Tetapi ya lumayanlah, untuk simbok dan bulik yang lulusan SMEA sudah bisa menghindari konflik hanya karena perbedaan pilihan pemimpin mereka.</p>
<p>Itu tadi contoh kasus soal penyaluran aspirasi politik. Bagaimana dengan kasus penyaluran aspirasi dari seorang penulis yang biasanya dituangkan dalam bentuk tulisan? Sejauh apakah kebebasan penulis itu mengeksplorasi ide-idenya? Dan seluas apakah ranah perbedaan yang <em>we have to deal with</em> dalam dunia jurnalistik? Tentu saja seorang penulis tidak akan memuaskan semua pihak, karena penulis pasti akan menyadari kemajemukan (baca:perbedaan) dari setiap pembacanya. Apakah penulis terbebani dengan dimensi perbedaan itu? Saya rasa mungkin sebagian ada yang iya, tapi yang tidak pun juga banyak. Lho, ternyata penulis pun juga majemuk <em>to</em>, penulis itu juga termasuk dalam dimensi perbedaan. Jadi seharusnya menjadi kewajaran jika penulis satu akan menghargai karya penulis yang lain, dan akan diikuti dengan pembaca yang satu akan menghargai pembaca yang lain. Jika meningkat ke arah yang lebih edukatif, para penulis akan saling mengkritisi dan memberi masukan pada hasil karya penulis yang lain. Seperti buku berjudul “Mengenal Umar Kayam Luar Dalam” tidak berisi layaknya memoir biasa yang hanya berisi pujian dan ulasan <em>track record</em> yang bagus dari sang tokoh, tetapi juga berisi artikel-artikel yang mengkritisi karya-karya beliau. Sang Umar Kayam memang sudah tidak bisa membaca (mungkin sih bisa juga membaca dari alam lain, saya kurang tahu karena belum pernah berkunjung ke sana), tetapi generasi penerusnya akan bisa membaca, merenungkan, dan belajar juga perbedaan yang ada. Jadi apakah perbedaan dalam dunia jurnalistik itu wajar? Bukan hanya wajar, tapi merupakan suatu keniscayaan dan sangat menggali kreativitas.</p>
<p>Bagaimana dengan perbedaan dalam kasus psikologi? Jika kamu menganggap dirimu waras, hampir semuanya tidak akan mau berdekatan dengan orang gila (kecuali profesimu dokter jiwa atau psikiater). Tapi bisakah kamu yang mengaku waras bersahabat dengan orang gila? Punya jalan hidup, dunia, dan pikiran yang berbeda, tetapi bisa saling bergandengan tangan berkaitan kaki? Bisa nggak hayo? Saya gila, kamu waras, so what gitu lohhh??!!!</p>
<p>Cheers,</p>
<p>Lby (18/07/09;12:23)</p>
<p>Note: artikel ini juga dimuat di http://nusantara-global.com/2009/07/20/saya-gila-kamu-waras-so-what-geto-lohh/</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/lembayungsolo.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/lembayungsolo.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/lembayungsolo.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/lembayungsolo.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/lembayungsolo.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/lembayungsolo.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/lembayungsolo.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/lembayungsolo.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/lembayungsolo.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/lembayungsolo.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/lembayungsolo.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/lembayungsolo.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/lembayungsolo.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/lembayungsolo.wordpress.com/82/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lembayungsolo.wordpress.com&amp;blog=2613609&amp;post=82&amp;subd=lembayungsolo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lembayungsolo.wordpress.com/2009/07/22/saya-gila-kamu-waras-so-what-geto-lohh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/67d3cab7ec0bf61c4da0ee8e6d3a60fd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">lembayungsolo</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
